Pada Festival Cherrypop 2026 yang berlangsung di Candi Prambanan, POPSEA berperan aktif dalam mendidik ribuan pengunjung tentang pengelolaan sampah botol plastik. Sebagai organisasi global, mereka telah berhasil mendaur ulang dua miliar botol plastik dan mengurangi emisi karbon dalam dua tahun terakhir.
Di tengah suasana meriah yang dipenuhi dentuman musik dan sorakan penonton pada Sabtu (22/8/2026), POPSEA hadir dengan misi penting untuk mengajak generasi muda berpikir lebih kritis tentang penggunaan botol plastik yang mereka bawa saat menikmati konser. Festival yang dikenal sebagai "lebaran" kreativitas anak muda di Yogyakarta ini, seringkali menyisakan masalah klasik berupa tumpukan sampah plastik. POPSEA mengambil langkah untuk mengubah kebiasaan membuang sampah menjadi kesadaran kolektif yang lebih baik.
Kolaborasi untuk Keberlanjutan
Daniel Lawrence Angelo, CEO POPSEA, menjelaskan, "Kami ingin festival musik punya mitra keberlanjutan. Kehadiran kami di sini adalah sarana edukasi bahwa sampah plastik adalah tanggung jawab kita bersama, bukan orang lain." Dengan peran sebagai mitra keberlanjutan, POPSEA berupaya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah plastik.
Prestasi dan Target POPSEA
POPSEA bukanlah organisasi yang baru berdiri. Sebagai bagian dari inisiatif global Prevented Ocean Plastic yang berasal dari Inggris, mereka telah hadir di 12 kota besar di Indonesia, mulai dari Medan hingga Makassar. Dalam dua tahun terakhir, POPSEA telah mendaur ulang lebih dari dua miliar botol plastik dan mengurangi lebih dari 297 juta kilogram emisi karbon. Mereka juga menyediakan material daur ulang berkualitas untuk berbagai merek global.
Namun, bagi Daniel, angka-angka tersebut hanyalah bonus. "Masyarakat sering bertanya, sampah plastik ini mau diapakan? Jadi apa nantinya? Kami hadir di ruang publik seperti Cherrypop untuk menjawab itu secara nyata, bukan sekadar teori di pabrik," tambahnya.
Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan
POPSEA juga berkomitmen untuk memberdayakan 1.669 pahlawan sampah serta ratusan pekerja perempuan dalam mewujudkan ekonomi sirkular yang inklusif. Melalui inisiatif ini, mereka tidak hanya fokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga pada aspek sosial yang lebih luas, memberikan dampak positif bagi masyarakat.