Gelombang panas yang sangat ekstrem di Korea Selatan telah memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian, mengakibatkan kerugian besar bagi para petani. Suhu di beberapa daerah, seperti Yangsan, mencapai rekor tertinggi 42,5 derajat Celsius, memicu pemerintah Provinsi Gangwon untuk mengeluarkan peringatan panas ekstrem pertama.
Kondisi Pertanian yang Memprihatinkan
Sejumlah petani melaporkan hasil panen mereka mengalami kerusakan yang tidak biasa. Di Kabupaten Yanggu, seorang petani kentang bernama Lee Sang Hyuk mengungkapkan bahwa kondisi yang dialaminya adalah yang terburuk dalam puluhan tahun berkarir sebagai petani. Ia menjelaskan bahwa kentang yang baru saja dipanen terasa lembek seperti sudah direbus. Lee menduga bahwa suhu tanah yang meningkat drastis akibat panas berkepanjangan menyerupai kondisi di dalam tungku.
Kerusakan pada Buah Melon dan Kematian Hewan Ternak
Di Gwangju, petani bernama Hong Kyung Hee juga terkejut dengan cepatnya kerusakan pada buah melon yang sebelumnya dalam kondisi baik. Ia menyatakan, "Tiga hari lalu, bagian dalam melon masih manis dan semuanya baik-baik saja. Tiba-tiba setelah satu malam, semuanya menjadi seperti ini." Hong, yang telah bertani selama 50 tahun, mengaku baru pertama kali menyaksikan kejadian semacam ini.
Gelombang panas ini juga berdampak fatal pada hewan ternak. Data dari Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) mencatat bahwa setidaknya 31 orang meninggal dunia, sementara lebih dari 900.000 hewan ternak dan sekitar 1,4 juta ikan budidaya mati akibat kondisi cuaca yang ekstrem. Suhu tertinggi yang tercatat di Kota Yangsan pada awal Agustus menjadi yang terparah, mencatat angka 42,5 derajat Celsius, yang merupakan suhu tertinggi di Korea Selatan sejak 1904.