SLEMAN—Dua pelajar dari SMPN 1 Turi, Abiyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho, telah mengembangkan sebuah alat pendeteksi kelaikan makanan yang bertujuan untuk memastikan keamanan sajian Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada Kamis (23/7/2026), mereka menjelaskan inovasi tersebut yang menggunakan empat sensor, mikrokontroler ESP32, dan biaya pembuatan sekitar Rp500.000. Alat yang dinamakan Detektor MBG ini mampu membedakan makanan yang segar dan basi dalam hitungan detik serta mengirimkan hasil pemeriksaan secara real-time ke ponsel pintar.
Prototipe ini telah digunakan di SMPN 1 Turi sebagai bagian dari pemeriksaan sampel makanan MBG. Abiyan dan Pradipta, yang berusia 14 tahun, menghabiskan waktu sekitar tiga bulan untuk merancang, memprogram, dan merakit alat tersebut.
Rancangan dan Fungsi Detektor MBG
Detektor MBG dirancang dalam sebuah kotak bekal yang dilengkapi dengan berbagai komponen elektronik, termasuk empat baterai, layar monitor, dan rangkaian sensor. Alat ini menggunakan sensor DHT11, MQ-3, MQ-135, dan TCS3200 yang bekerja secara bersamaan untuk membaca kondisi makanan. Abiyan menjelaskan, "Jadi untuk alatnya ini kita menggunakan beberapa sensor. Ini ada sensor MQ-3, MQ-3 ini buat mendeteksi kelembapan. MQ-135 ini buat mengecek kualitas udara makanan tersebut."
Alat ini juga dilengkapi dengan sensor suhu dan pendeteksi kandungan pestisida untuk memeriksa buah dan sayuran yang termasuk dalam menu MBG. "DHT11 ini untuk mengukur suhu makanan dan TCS3200 ini buat mendeteksi pestisida di dalam buah biasanya," tambahnya. Untuk menjaga stabilitas suhu, mereka juga memasang kipas di dalam boks, "Ini kipas buat menjaga suhu ruangan boks ini agar tetap stabil, jadi enggak naik turun," ungkapnya.
Seluruh sistem alat ini dikendalikan oleh ESP32 yang berfungsi sebagai pusat pengolahan data serta mendukung konektivitas Wi-Fi dan Bluetooth. "Ini ada ESP32 ini buat otaknya dari alat ini. Jadi kita memprogramnya lewat sini," jelas Abi.
Proses Deteksi dan Hasil Pengujian
Cara penggunaan alat ini cukup sederhana. Pengguna hanya perlu memasukkan sampel makanan ke dalam kotak, menutupnya rapat, dan menyalakan sistem. Sensor akan segera melakukan pembacaan terhadap kondisi makanan. Jika makanan dinyatakan layak konsumsi, layar kecil pada kotak akan menampilkan tulisan "AMAN". Sebaliknya, jika terindikasi tidak layak, monitor akan menunjukkan tulisan "TERDETEKSI". Informasi lebih rinci dapat dipantau melalui ponsel pintar, di mana pengguna bisa mengetahui sensor mana yang menunjukkan kondisi aman atau berbahaya.
Saat melakukan demonstrasi, Abi dan Pradipta menguji nasi segar terlebih dahulu, dan dalam waktu sekitar lima detik, alat menampilkan status "AMAN". Namun, saat menguji nasi basi, aroma menyengat tercium dan monitor segera menunjukkan tulisan "TERDETEKSI", sementara aplikasi ponsel menampilkan indikator bahaya dari sensor MQ-3 dan MQ-135 serta notifikasi "MAKANAN BASI TERDETEKSI". "Kalau basi seperti ini hasilnya. Makanan basi terdeteksi, di sini juga ada [indikator] terdeteksi. Ini suhu makanannya yang basi," jelasnya.
Inovasi ini muncul setelah Abi dan Pradipta meneliti berbagai kasus keracunan makanan yang masih sering terjadi di berbagai daerah. Mereka berdiskusi untuk menciptakan alat yang dapat membantu mendeteksi makanan yang tidak layak konsumsi. Setelah ide terbentuk, mereka mempelajari berbagai referensi, berkonsultasi dengan pihak terkait, membeli komponen yang diperlukan, dan merakit alat secara mandiri. "Dari situ awalnya kita merakitnya dari ini, untuk memprogram, sama ini membeli beberapa komponennya ini," ungkapnya.
Meskipun proses perakitan memakan waktu sekitar dua minggu, total waktu pengembangan alat mencapai sekitar tiga bulan. Menurut Abi, tantangan terbesar dalam pengembangan alat ini adalah pemrograman, "Kalau kesulitannya dalam membuat alat ini memprogramnya sih, lebih sulitnya. Soalnya sering kali saya meleset sedikit itu kan salah hasilnya. Eror-eror gitu," ujarnya.
Setelah tahap pengembangan selesai, Detektor MBG mulai digunakan untuk memeriksa sampel makanan yang masuk ke SMPN 1 Turi. Abi menyatakan bahwa akurasi alat ini mendekati 100%. Dengan biaya pembuatan sekitar Rp500.000, alat ini terus dimanfaatkan untuk memastikan keamanan makanan yang diterima oleh siswa. Hingga kini, Abi menyebutkan belum pernah ada kasus keracunan makanan di sekolahnya.
"Sejauh ini kalau di sekolah kami tuh belum pernah ya ditemukan. Nggih aman terus, nggih [sesuai hasil deteksi]," ungkapnya. Keberhasilan menciptakan alat ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Abi, karena tujuan utamanya adalah untuk menekan angka keracunan makanan. "Kalau penciptaan alat ini saya merasa senang karena bisa buat mengendalikan keracunan MBG," tuturnya. Ia berharap Detektor MBG dapat diproduksi lebih banyak agar bisa digunakan di sekolah-sekolah lain.
Inspirasi dan Pengembangan Lebih Lanjut
Guru IPA sekaligus Pembimbing Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMPN 1 Turi, Anik Marwati, menjelaskan bahwa ide pembuatan alat ini muncul setelah siswa mencermati berbagai kasus keracunan makanan. "Idenya dari anak -- Ibu, ini banyak kasus keracunan di sekolah-sekolah, itu terus gimana ya Bu? Kita bikin apa ya Bu?" kata Anik menerangkan awal mula percakapan yang memunculkan ide Detektor MBG.
Para siswa kemudian mencari berbagai referensi untuk menentukan sensor yang sesuai. "Kan akhirnya searching, membaca buku, membaca di beberapa referensi gitu kan. Akhirnya ada beberapa sensor," ujarnya. Abi dan Pradipta merupakan anggota KIR SMPN 1 Turi yang mendapatkan pembelajaran tentang robotika dan pemrograman dasar di sekolah.
Setiap kali MBG tiba di sekolah, sekitar tiga hingga empat ompreng dijadikan sampel pemeriksaan. Makanan diperiksa sejak awal kedatangan dan diuji kembali secara berkala sebelum dikonsumsi. "Jadi kan ini MBG datang kan, terus di-uji coba. Kan MBG itu kan idealnya 2 jam setelah datang harusnya harus dimakan kan," ungkapnya.
Detektor MBG saat ini juga tengah mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Meskipun masih berupa prototipe dan baru tersedia satu unit di SMPN 1 Turi, alat ini tetap digunakan sambil terus disempurnakan. "Iya, masih tetap dikembangkan. Terus ya dipakai juga, alhamdulillah aman," tutup Anik.