Pendidikan

Inovasi Sistem Inteligen Bisnis untuk Proses Penerimaan Mahasiswa Baru

Universitas Islam Indonesia (UII) meluncurkan sistem Inteligen Bisnis yang bertujuan untuk meningkatkan pengambilan keputusan dalam proses penerimaan mahasiswa baru dengan pendekatan berbasis data.

J
Jarot Kusna
01 August 2026 20 pembaca
UII mengembangkan sistem Inteligen Bisnis untuk membantu pengambilan keputusan admisi berbasis data dengan skor usability 84,4. /Istimewa.
UII mengembangkan sistem Inteligen Bisnis untuk membantu pengambilan keputusan admisi berbasis data dengan skor usability 84,4. /Istimewa.

Tim peneliti dari Jurusan Informatika Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) telah mengembangkan sistem Inteligen Bisnis (IB) yang dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Sistem ini bertujuan agar keputusan yang diambil dalam proses admisi tidak lagi mengandalkan intuisi, melainkan berlandaskan pada analisis data yang lebih cepat, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Inovasi ini muncul sebagai solusi atas tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi, terutama terkait dengan dinamika yang tinggi dalam proses admisi dan keterbatasan waktu dalam menentukan kebijakan penting, seperti nilai ambang batas kelulusan, kuota penerimaan, dan jadwal penutupan pendaftaran.

Mempermudah Pengambilan Keputusan Berbasis Data

Kholid Haryono, dosen Jurusan Informatika FTI UII, menjelaskan bahwa pengambil kebijakan di perguruan tinggi sering kali mengalami kesulitan karena data yang diperlukan tersebar di berbagai sistem dan sulit untuk dianalisis dengan cepat. "Proses admisi itu dinamis dan sangat dibatasi waktu. Melalui penelitian berbasis Action Design Research (ADR) ini, kami memetakan 20 jenis keputusan admisi serta empat model pengambilan keputusan yang kerap digunakan, mulai dari heuristik, kolaboratif, analitis, hingga intuitif," ungkap Kholid.

Dengan penelitian ini, tim berhasil mengembangkan sistem yang mendukung pengambilan keputusan secara lebih sistematis dengan memanfaatkan data sebagai dasar pertimbangan.

Pengujian dan Evaluasi Sistem

Artefak sistem Inteligen Bisnis yang telah dikembangkan telah melalui empat tahap evaluasi, yaitu Alpha, Beta, Gamma, dan Delta. Pengujian ini melibatkan pimpinan universitas, kepala bidang admisi, dan ketua program studi untuk memastikan bahwa sistem tersebut sesuai dengan kebutuhan pengguna. Hasil evaluasi di tahap akhir menunjukkan bahwa semua 31 fitur yang ada telah mencapai kondisi penerimaan yang ideal. Sistem ini juga mendapatkan nilai System Usability Scale (SUS) sebesar 84,4 dari skala 100, yang termasuk dalam kategori "sangat baik".

Selain menciptakan sistem yang dapat digunakan di lingkungan kampus, penelitian ini juga menghasilkan 12 prinsip desain (Design Principles) yang telah diformalkan. Prinsip-prinsip ini disusun sebagai panduan bagi perguruan tinggi lain yang ingin mengembangkan sistem Inteligen Bisnis dalam proses penerimaan mahasiswa baru.

Raden Teduh Dirgahayu, ketua Jurusan Informatika FTI UII, menilai bahwa inovasi ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi. "Investasi pada sistem Inteligen Bisnis admisi ini bukan sekadar investasi teknologi, melainkan investasi pada kualitas pengambilan keputusan institusi. Kami berharap 12 prinsip desain yang dirumuskan ini bisa menjadi panduan konkret bagi perguruan tinggi lain di Indonesia untuk mentransformasi proses admisi mereka dari berbasis intuisi menjadi berbasis data yang tepercaya," jelas Raden Teduh.

Penerapan di Perguruan Tinggi Lain

Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menggabungkan tiga kontribusi, yaitu aspek teoretis, metodologis melalui penerapan Action Design Research (ADR) secara menyeluruh, serta aspek praktis berupa pemetaan model pengambilan keputusan dan sistem yang telah teruji, bukan hanya sekadar prototipe laboratorium. Meskipun dikembangkan di lingkungan UII, prinsip-prinsip desain yang dihasilkan bersifat adaptif dan dapat diterapkan secara bertahap oleh perguruan tinggi lain dengan menyesuaikan tingkat kematangan data dan kapasitas organisasi masing-masing.

Artikel Terkait