Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Profesor Yudian Wahyudi, mengajak semua perguruan tinggi di Indonesia untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, nilai-nilai agama, dan Pancasila dalam proses pendidikan. Ia menekankan bahwa penguasaan sains yang diimbangi dengan moralitas adalah fondasi penting untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mampu memimpin peradaban.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Yudian saat membuka Simposium Nasional Pendidikan Pancasila yang mengusung tema “Melalui Integrasi Ilmu, Spiritualitas, dan Kebangsaan: Penguatan Ideologi Pancasila dalam Perspektif Integratif, Interkonektif, dan Transformatif” di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada Senin (27/7/2026). Dalam paparannya, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga periode 2016–2024 ini mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan nilai-nilai keagamaan.
Yudian memberikan contoh sejarah runtuhnya peradaban Islam di Andalusia yang menunjukkan bahwa kemunduran bisa terjadi ketika tradisi ilmu pengetahuan eksperimental dan teknologi ditinggalkan. “Ilmu, agama, dan riset harus berjalan bersama. Bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi bangsa yang memimpin peradaban,” ungkap Yudian.
Pendidikan Pancasila dalam Konteks Modern
Menurut Yudian, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), khususnya UIN Sunan Kalijaga, memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang menguasai ilmu keagamaan, sains, dan memiliki semangat kebangsaan yang tinggi. Pembukaan simposium ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Yudian yang didampingi Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, serta para narasumber.
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, menekankan bahwa Pendidikan Pancasila tidak cukup hanya diajarkan sebagai materi normatif atau indoktrinasi. Ia berpendapat bahwa nilai-nilai Pancasila harus diintegrasikan dalam seluruh aktivitas pendidikan, mulai dari proses pembelajaran, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat. “Di tengah derasnya arus globalisasi, menguatnya eksklusivisme, dan berbagai tantangan kebangsaan, Pancasila tidak cukup diajarkan secara legalistik maupun indoktrinatif. Pendidikan Pancasila harus dihadirkan melalui perspektif integratif dan interkonektif sehingga benar-benar hidup dalam seluruh proses pembelajaran,” tegas Noorhaidi.
Pancasila sebagai Landasan Etis
Ketua Panitia sekaligus Direktur CIINTRA UIN Sunan Kalijaga, Profesor Eva Latipah, menyatakan bahwa Pendidikan Pancasila perlu berkembang dari sekadar mata kuliah wajib menjadi landasan etis dalam berpikir dan bertindak. “Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal Pancasila. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi cara berpikir, cara mengambil keputusan, sekaligus menjadi landasan etis dalam setiap disiplin ilmu,” jelas Eva.
Ia juga menambahkan bahwa keberadaan CIINTRA diharapkan dapat menjadi ruang yang mempertemukan ilmu pengetahuan, spiritualitas, kemanusiaan, dan kebudayaan. “Ilmu tidak boleh berhenti pada gagasan. Ilmu harus mentransformasikan cara berpikir, cara bertindak, dan cara menyelesaikan persoalan masyarakat,” sambungnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi panel ilmiah yang dipandu oleh Dr. Sujadi. Dalam sesi tersebut, Anggota Dewan Pengarah BPIP, Prof. Dr. M. Amin Abdullah, menjelaskan pentingnya Pancasila sebagai orientasi etika keilmuan dan spiritualitas kebangsaan. Sementara itu, Guru Besar (Purnadinas) FIB Universitas Indonesia, Prof. Dr. Melani Budianta, mengajak kalangan akademisi untuk membumikan Pancasila melalui praktik sosial dan kebudayaan yang menghargai keberagaman serta menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.