Studio Kampanye AI memperkenalkan serial terbarunya, Jaka Tingkir Saga: Bengawan Sore, di Jakarta pada tanggal 3 September 2026. Serial kolosal ini terdiri dari 57 episode dan diproduksi sepenuhnya menggunakan teknologi Kecerdasan Buatan, tanpa memerlukan lokasi syuting fisik.
Dengan menampilkan aktor seperti Dian Sidik dan Choky Andriano, tayangan ini kini dapat diakses melalui platform resmi. Jaka Tingkir Saga menggambarkan sebuah film kolosal yang menampilkan ribuan prajurit, set kerajaan yang megah, dan medan perang yang luas, semua itu dihasilkan tanpa kamera, lokasi syuting, atau bahkan kuda di lapangan. Hal ini menjadi kenyataan berkat inovasi dari studio kreatif Kampanye AI.
Inovasi Produksi Tanpa Batas
Dalam acara peluncuran yang berlangsung di Hades VIP, Jakarta, CEO Kampanye AI, Andi Sultan, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan langkah besar dalam industri perfilman. Biasanya, produksi kolosal memerlukan anggaran yang sangat besar, melibatkan banyak kru, dan persiapan yang rumit. Namun, dalam Jaka Tingkir Saga, "Di sini tidak ada lokasi syuting, tidak ada set kerajaan yang dibangun, tidak ada ratusan figuran. Seluruh dunia Bengawan Sore, mulai dari pendopo Pajang hingga detail pertempuran di tepi sungai, dihasilkan sepenuhnya oleh AI," ungkap Andi Sultan.
Meskipun teknologi AI digunakan, elemen manusia tetap menjadi inti dari produksi. Setiap adegan diarahkan dengan pendekatan yang disebut "Sinema AI", di mana sutradara memiliki kontrol penuh atas tata kamera, pencahayaan, dan koreografi silat melalui ribuan instruksi visual yang kompleks.
Karakter yang Hidup Kembali Melalui Teknologi
Menariknya, meskipun prosesnya sepenuhnya digital, serial ini tetap menampilkan wajah-wajah aktris dan aktor terkenal yang dihidupkan kembali melalui teknologi AI. Dian Sidik tampil sebagai Jaka Tingkir, berpasangan dengan Adelia Rasya yang memerankan Ratu Kalinyamat. Selain itu, Choky Andriano, yang juga menjabat sebagai CEO Kampanye AI, berperan sebagai antagonis legendaris, Arya Penangsang. Karakter lainnya diperkuat oleh Dede Wijaya Pratama, Angga Candra, dan Rianto.
Choky Andriano menyatakan, "Ini bukan sekadar remake. Ini adalah cara baru bercerita. Kami ingin generasi 90-an dan anak-anak mereka bisa menikmati legenda Nusantara dengan pengalaman visual yang benar-benar baru."