Nasional

Jalur Pejalan Kaki Bawah Tanah di Bundaran HI, Solusi Nyaman untuk Pengunjung

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang membangun jalur pejalan kaki bawah tanah di Bundaran Hotel Indonesia, yang ditargetkan selesai pada Mei 2027. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan...

A
Agus Wigati
02 August 2026 24 pembaca
Intip Terowongan Bawah Tanah di Bundaran HI, Bikin Nyaman Pejalan Kaki
Intip Terowongan Bawah Tanah di Bundaran HI, Bikin Nyaman Pejalan Kaki

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mengembangkan jalur pejalan kaki bawah tanah di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Proyek ini dikerjakan oleh PT MRT Jakarta dan diharapkan rampung pada Mei 2027, bersamaan dengan peringatan HUT ke-500 Kota Jakarta.

Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, mengungkapkan bahwa saat ini progres pembangunan jalur tersebut telah mencapai sekitar 22 persen. Dia menambahkan, proyek ini direncanakan selesai pada Juni 2027, bertepatan dengan perayaan lima abad Jakarta. "Terkait pembangunan pedestrian pejalan kaki di bawah tanah, extended concourse, saat ini progresnya kurang lebih sekitar 22 persen dan kami punya target selesai bulan Juni 2027, tepat lima abad Jakarta," ujar Tuhiyat dalam konferensi pers di MRT.

Proses Pembangunan yang Berkelanjutan

IDN Times berkesempatan untuk mengunjungi lokasi proyek yang terletak di area MRT Bundaran HI selama hampir 30 menit. Jalur pejalan kaki ini berada sekitar 10 meter di bawah permukaan Jalan MH Thamrin, tepat di bawah Halte TransJakarta Bundaran HI Astra. Beberapa pekerja terlihat aktif di berbagai sudut ruang bawah tanah yang memiliki luas sekitar 4.200 meter persegi dengan ketinggian mencapai 3,5 meter.

Yulham Ferdiansyah Roestam, Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), menjelaskan bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap. Struktur utama telah diselesaikan pada tahap sebelumnya dan saat ini proyek memasuki tahap penyelesaian akhir. "Area ini sebetulnya sudah kami selesaikan pada periode sebelumnya, kemudian sekarang masuk proses finishing dan fit out," jelasnya.

Akses dan Fasilitas untuk Pejalan Kaki

Dalam koridor tersebut, MRT Jakarta juga menyiapkan knock-down panel, yang merupakan panel dinding yang dapat dibuka saat proyek interkoneksi tahap berikutnya dimulai. Salah satu panel direncanakan untuk menghubungkan area B1 Plaza Indonesia. Pada tahap awal, jalur pejalan kaki ini akan memiliki dua akses baru. Muara 1 terletak di sisi barat, mengarah ke Plaza Indonesia dan Grand Hyatt, sedangkan Muara 2 berada di sisi timur menuju Hotel Pullman dan kompleks Wisma Nusantara.

"Nanti ada muara untuk naik ke area pedestrian Plaza Indonesia melalui eskalator dan tangga. Muara 2 berada di sisi Pullman dan Wisma Nusantara," tambah Yulham. Koridor ini juga akan terhubung langsung dengan eskalator menuju Halte TransJakarta Bundaran HI Astra. Yulham menjelaskan bahwa posisi dinding yang nantinya menjadi jalur interkoneksi berada tepat di bawah viewing deck halte TransJakarta, sekitar 10 meter di bawah permukaan.

Dia juga menambahkan bahwa jarak dari titik pembangunan menuju kolam Bundaran HI kurang dari 50 meter. Namun, sambungan menuju kawasan Bundaran HI belum dapat dibuka karena masih menunggu finalisasi desain. "Future connection-nya nanti ke Hotel Indonesia Kempinski, Grand Indonesia, dan Mandarin Oriental. Sekarang masih dalam tahap finalisasi desain," katanya.

Yulham menegaskan bahwa pengembangan tahap pertama hanya mencakup pembangunan extended concourse seluas 4.200 meter persegi serta persiapan sambungan melalui knock-down panel. Koneksi menuju Kempinski, Grand Indonesia, dan Mandarin Oriental akan dibangun pada tahap berikutnya setelah desain disetujui oleh Pemprov DKI Jakarta.

Selain berfungsi sebagai jalur penghubung, extended concourse juga dirancang sebagai ruang publik multifungsi. Area ini nantinya dapat digunakan untuk kegiatan komersial, pameran, hingga berbagai aktivasi merek. "Di extended concourse ini juga bisa diaktifkan berbagai multifunction, multi-event, termasuk area komersial bersama partner MRT Jakarta," ungkap Yulham.

Kabar baiknya, jalur bawah tanah ini merupakan area non-berbayar, sehingga masyarakat umum dapat melintas tanpa harus melakukan tap in kartu. Penumpang baru akan melakukan tap saat memasuki area berbayar di dalam stasiun. "Area ini bebas. Publik bisa masuk karena ini non-berbayar. Tapping tetap di area tengah stasiun," jelasnya.

Menurut Yulham, keberadaan extended concourse akan membuat pergerakan pejalan kaki menjadi lebih nyaman karena tidak perlu lagi menyeberang Jalan MH Thamrin di permukaan. "Kami mengupayakan perpindahan orang lebih seamless, tidak mengganggu lalu lintas, dan lebih nyaman karena ambience-nya seperti berada di dalam stasiun dengan pendingin udara," ujarnya.

Dengan luas mencapai 4.200 meter persegi, extended concourse diperkirakan mampu menampung lebih dari 3.200 orang secara bersamaan dalam posisi berdiri, setelah memperhitungkan ruang sirkulasi. Area di ujung koridor juga akan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan publik dan aktivasi komersial. Tahap pertama proyek ini ditargetkan selesai pada Mei 2027, sementara pengembangan interkoneksi menuju Hotel Indonesia Kempinski, Grand Indonesia, dan Mandarin Oriental masih menunggu finalisasi desain bersama Pemprov DKI Jakarta.

Artikel Terkait