Jakarta - Tidur merupakan aspek yang sangat penting untuk kesehatan tubuh. Kualitas tidur yang baik akan memberikan dampak positif, sedangkan tidur yang tidak berkualitas dapat menyebabkan efek negatif, bahkan pada fungsi otak. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini.
Empat Tahapan Tidur
Menurut informasi dari Health Harvard, tidur terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:
Tahap 1: Pada tahap ini, seseorang berada dalam kondisi antara terjaga dan tidur. Tidur di fase ini tergolong ringan dan mudah terganggu.
Tahap 2: Detak jantung dan pernapasan mulai melambat. Seseorang dalam tahap ini mulai kehilangan kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya.
Tahap 3: Dikenal sebagai SWS (Slow Wave Sleep) atau tidur nyenyak, di mana pernapasan dan detak jantung melambat, tekanan darah menurun, dan otot-otot menjadi lebih rileks. Pada fase ini, tubuh melakukan regenerasi jaringan dan melepaskan hormon-hormon penting.
Tahap 4: REM (Rapid Eye Movement) adalah fase terakhir dan terdalam dari tidur, yang juga dikenal sebagai fase bermimpi. Pada tahap ini, pernapasan menjadi lebih cepat dan tidak teratur, serta mata bergerak cepat ke segala arah. Aktivitas otak meningkat, dan detak jantung serta tekanan darah juga mengalami kenaikan.
Kebiasaan Tidur yang Berisiko
Sebuah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan tidur yang buruk dengan kerusakan otak. Kekurangan waktu tidur pada dua fase penting, yaitu tidur nyenyak dan REM, diduga dapat mempercepat penurunan fungsi otak yang terkait dengan penyakit Alzheimer. "Kami menemukan bahwa volume bagian otak yang disebut daerah parietal inferior menyusut pada orang-orang dengan tidur nyenyak dan REM yang tidak memadai," ungkap seorang peneliti.
Ahli saraf preventif Richard Issacson menambahkan bahwa pengalamannya dalam merawat pasien berisiko Alzheimer mendukung temuan tersebut. "Kami juga menemukan bahwa metrik tidur yang lebih baik selama tidur nyenyak dapat memprediksi fungsi kognitif," ujarnya.
Selama tidur nyenyak, otak membersihkan racun dan sel-sel mati, serta memperbaiki tubuh untuk hari berikutnya. Sementara itu, saat bermimpi di fase REM, otak memproses emosi dan mengkonsolidasikan ingatan. Oleh karena itu, penting untuk mendapatkan tidur nyenyak dan REM yang berkualitas agar fungsi tubuh dan otak tetap optimal.
Orang dewasa disarankan untuk tidur sekitar tujuh hingga delapan jam setiap malam, sementara remaja dan anak-anak memerlukan waktu tidur yang lebih panjang. Para ahli menyatakan bahwa orang dewasa sebaiknya menghabiskan 20 hingga 25 persen dari waktu tidurnya dalam fase tidur nyenyak dan REM. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan akan tidur nyenyak cenderung berkurang.
Tidur nyenyak biasanya terjadi setelah seseorang tertidur, sedangkan tidur REM muncul menjelang pagi. Oleh karena itu, jika seseorang tidur larut malam dan bangun pagi, mereka mungkin tidak mendapatkan cukup waktu di kedua tahap tersebut. Namun, sekadar berbaring lebih lama di tempat tidur tidak cukup; tidur yang nyenyak dan tanpa gangguan secara teratur sangat diperlukan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan tidur yang baik dapat menambah harapan hidup pria hingga hampir lima tahun dan wanita hingga hampir dua setengah tahun.
Cara Menilai Kualitas Tidur
Spesialis penyakit dalam, dr. Ray Rattu, SpPD, menyarankan cara sederhana untuk menilai kualitas tidur dengan menggunakan fitur pelacak tidur pada smartwatch. Meskipun tidak seakurat tes tidur di rumah sakit, perangkat ini dapat membantu memantau kualitas tidur. "Saya bisa mengetahui seberapa tenang aktivitas metabolisme saya dan seberapa rendah detak jantung saya, karena ini berpengaruh pada seberapa aktif kita saat tidur," jelasnya.
Ia menambahkan, "Jika detak jantung kita turun di bawah 60, itu menunjukkan bahwa kita berada dalam tidur nyenyak. Sebaliknya, jika detak jantung di atas 80, mungkin ada sesuatu yang tidak beres, seperti demam atau stres."