Pada akhir pekan, tepatnya pada Sabtu dan Minggu (29-30 Agustus 2026), Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja bertransformasi menjadi arena seni yang meriah. Berbagai kesenian rakyat, termasuk jathilan, ketoprak, dan pentas pedalangan, menjadi bagian dari perayaan Dies Natalis ke-42 ISI Jogja 2026. Acara bertajuk pagelaran seni dan pesta rakyat ini berlangsung dari pagi hingga tengah malam dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat sekitar serta melibatkan pelaku UMKM di lingkungan kampus.
Puncak Rangkaian Kegiatan
Ketua Panitia Pagelaran Seni dan Pesta Rakyat ISI Jogja, Adiyanto Aji, menyatakan bahwa acara ini merupakan penutup dari rangkaian Dies Natalis yang telah dimulai sejak Mei lalu oleh masing-masing fakultas. "Ini adalah acara puncak dari rangkaian Dies Natalis ISI Jogja 2026. Yang pertama membuka Fakultas Seni Media Rekam, kemudian Fakultas Seni Rupa dan Desain, dan ditutup oleh Fakultas Seni Pertunjukan," ungkap Aji pada hari pertama acara.
Memperkenalkan Kesenian Tradisional
Adiyanto Aji menjelaskan bahwa pemilihan kesenian tradisional sebagai fokus utama Pesta Rakyat ISI Jogja memiliki tujuan tertentu. Banyak orang beranggapan bahwa ISI Jogja adalah institusi seni yang eksklusif dan lebih dikenal dengan karya-karya Barat. Namun, ISI Jogja juga memiliki program studi yang berkaitan dengan seni tradisi, seperti karawitan dan pedalangan. "Kami berusaha membuka ruang agar masyarakat bisa berkolaborasi dan mengenal ISI lebih dekat," tambahnya.
Kegiatan ini tidak hanya menyajikan pertunjukan seni, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM di sekitar kampus untuk berpartisipasi, sehingga menciptakan ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam perayaan Dies Natalis ke-42 ISI Jogja.
Dari Beragam Genre Kesenian
Show Director Pagelaran Seni dan Pesta Rakyat ISI Jogja, Evi Purtianti, menjelaskan bahwa pertunjukan pada hari pertama mencakup berbagai genre seni, termasuk reog kendang, band, tari difabel, keroncong, jathilan, karawitan, dan gamelan. Pada hari kedua, panggung akan diisi dengan pertunjukan yang dihasilkan dari open call mahasiswa, yang mencakup tari, keroncong, musik pop, hingga heavy metal. "Setelahnya pertunjukan akan ditutup dengan pentas akbar empat komposer dalam format orkestra. Pertunjukan tersebut diperkirakan berlangsung sekitar 120 menit," jelasnya.
Melalui rangkaian acara ini, Pesta Rakyat menjadi penutup yang mempertemukan berbagai ekspresi seni dalam satu agenda, menggabungkan pertunjukan tradisional dengan musik modern dalam satu panggung.
Proses Kurasi untuk Kualitas Acara
Evi menambahkan bahwa panitia tetap melakukan kurasi untuk memastikan kualitas pertunjukan yang disajikan. Sebanyak 11 mitra program studi Fakultas Seni Pertunjukan yang terlibat juga melalui proses kurasi. Selain itu, panitia menggandeng tiga mitra kampus, yaitu Akademi Komunitas Negeri (AKN), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Negeri Jogja (UNY). Rangkaian pagelaran seni dan pesta rakyat ini menjadi puncak Dies Natalis ke-42 ISI Jogja 2026, setelah kegiatan sebelumnya dilaksanakan oleh masing-masing fakultas sejak Mei. Melalui acara ini, kampus juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk lebih mengenal beragam seni yang ada di lingkungan ISI Jogja.