Kasus yang melibatkan penjahit di Bali dan seorang perempuan asal Lombok bernama Hilda kembali mencuat. Proses mediasi yang seharusnya menjadi solusi malah diwarnai dengan ketegangan setelah Arya Wedakarna, Anggota DPD RI, terlihat memberikan tekanan kepada Hilda. Dalam sebuah video yang beredar luas, Arya mempertanyakan keinginan Hilda terkait penutupan usaha penjahit tersebut, yang sebelumnya telah dimediasi.
Arya menyinggung kemungkinan penutupan usaha penjahit itu dengan menanyakan kepada Hilda apakah ia ingin warung milik pasangan penjahit tersebut ditutup. Ia juga mengingatkan bahwa pasangan penjahit itu memiliki anak yang masih bersekolah. “Baju kamu sudah semua dikerjakan, salahnya beliau apa lagi. Emang ibunya salah, sekarang maunya gimana? Maunya (warungnya) ditutup?” ungkap Arya kepada Hilda.
Konsekuensi Penutupan Usaha
Arya melanjutkan dengan menekankan pentingnya usaha pasangan penjahit tersebut bagi keluarga mereka. Ia mempertanyakan siapa yang akan memenuhi kebutuhan keluarga jika usaha mereka harus ditutup. “Bapak ibu ini suami istri sama-sama penjahit lho, punya anak masih sekolah. Kalau kamu emosi, warungnya ditutup misalkan, mau kamu kasih makan? Mau tanggung jawab gak? Ayo dong ngomong depan kami,” tambahnya.
Reaksi Terhadap Pernyataan Arya
Lebih lanjut, Arya juga menyatakan bahwa keluarga penjahit memiliki hak untuk melaporkan Hilda terkait penyebaran video yang dianggap merugikan mereka. “Kalau pihak keluarga mau melaporkan UU ITE boleh, walaupun hari ini udah damai, tapi pihak keluarga berhak ngelaporin kamu, karena kamu nyebarin video orang,” jelas Arya. Pernyataan ini memicu beragam reaksi di media sosial.
Sebelum menjabat sebagai anggota DPD, Arya Wedakarna dikenal memiliki karier di industri hiburan. Ia memulai perjalanan kariernya di dunia modeling dan menjadi salah satu wajah yang menghiasi majalah Aneka saat masih muda.