Pendidikan

Meningkatnya Minat Bimbingan Belajar di Jogja, Orang Tua Diharapkan Tidak Memberi Tekanan pada Anak

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY mengamati lonjakan minat orang tua untuk memasukkan anak ke bimbingan belajar, namun mengingatkan agar tidak membebani anak dengan tekanan akade...

J
Jarot Kusna
05 September 2026 6 pembaca
Ilustrasi bimbingan belajar/Magnific
Ilustrasi bimbingan belajar/Magnific

Di Jogja, terdapat peningkatan signifikan dalam minat orang tua untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke bimbingan belajar (bimbel) di tengah persaingan untuk masuk sekolah. Hal ini menarik perhatian dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY, yang menilai bahwa perhatian tinggi terhadap pendidikan adalah hal yang positif, tetapi harus diimbangi dengan perhatian agar anak tidak merasa terbebani.

Kepala Disdikpora DIY, Raden Suci Rohmadi, menyatakan bahwa keputusan orang tua untuk memberikan pembelajaran tambahan melalui bimbel merupakan pilihan yang sah bagi setiap keluarga. Fenomena ini mencerminkan tingginya kepedulian masyarakat Jogja terhadap pendidikan sebagai bagian dari persiapan masa depan anak. "Menurut saya, antusiasme orang tua terhadap pendidikan anak itu sesuatu yang positif. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Yogyakarta masih menempatkan pendidikan sebagai investasi penting untuk masa depan anak," ungkap Suci.

Tekanan Akademik dan Kesejahteraan Anak

Suci menambahkan bahwa bimbel bisa menjadi alternatif bagi anak untuk mendapatkan pembelajaran tambahan dan mempersiapkan kebutuhan akademiknya. Namun, persiapan untuk menghadapi seleksi sekolah tidak seharusnya hanya berfokus pada pencapaian nilai tinggi atau memastikan anak diterima di sekolah tertentu. Ia menekankan bahwa pendidikan anak mencakup lebih dari sekadar pencapaian akademik.

Orang tua juga perlu memperhatikan aspek pembentukan karakter, kemandirian, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta kenyamanan anak dalam proses belajar. "Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai persiapan masuk sekolah justru membuat anak mengalami tekanan yang berlebihan. Pendidikan anak sebenarnya tidak hanya soal nilai akademik atau diterima di sekolah tertentu," tegasnya.

Pemilihan Sekolah yang Sesuai dengan Karakter Anak

Disdikpora DIY menyadari bahwa keinginan orang tua untuk memasukkan anak ke sekolah tertentu adalah hal yang wajar. Namun, pemerintah daerah ingin memastikan bahwa masyarakat memiliki lebih banyak pilihan sekolah berkualitas. Dengan pemerataan mutu pendidikan, diharapkan pilihan sekolah tidak hanya terkonsentrasi pada beberapa sekolah yang dianggap favorit.

Suci juga meminta orang tua untuk mempertimbangkan kondisi anak sebelum memilih pendidikan yang tepat. Potensi, minat, bakat, dan kebutuhan masing-masing anak harus menjadi pertimbangan utama. "Harapan kami, orang tua dalam memilih sekolah lebih melihat kesesuaian dengan potensi, minat, bakat, dan kebutuhan anak. Jangan sampai anak merasa bahwa masuk ke sekolah tertentu adalah satu-satunya ukuran keberhasilan," ujarnya.

Pandangan ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya persaingan untuk masuk sekolah. Ketika orang tua berlomba-lomba mempersiapkan anak melalui berbagai pembelajaran tambahan, penting untuk tetap memperhatikan kebutuhan anak agar mereka dapat menikmati proses belajar. Bimbel seharusnya memberikan dukungan tambahan tanpa menjadikan nilai, peringkat, atau sekolah tujuan sebagai satu-satunya penentu masa depan anak.

Suci menekankan bahwa perhatian masyarakat terhadap pendidikan dapat menjadi modal sosial yang positif bagi DIY. Namun, tantangannya adalah mengarahkan perhatian tersebut agar tidak hanya berfokus pada persaingan dalam mengejar nilai atau sekolah tertentu. Pemerintah DIY terus berupaya untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang secara optimal tanpa bergantung pada sekolah-sekolah yang dianggap favorit.

Dengan adanya pemerataan mutu pendidikan, diharapkan orang tua memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan satuan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak. "Bagaimana pemerintah memastikan antusiasme masyarakat tersebut diikuti dengan peningkatan kualitas dan pemerataan mutu pendidikan sehingga setiap anak punya kesempatan berkembang optimal di sekolah mana pun," tutup Suci.

Artikel Terkait