Peluang bagi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) untuk kembali menjadi anggota indeks global MSCI dianggap cukup terbuka. Emiten yang dimiliki oleh konglomerat Prajogo Pangestu ini telah memenuhi ketentuan kepemilikan saham publik (free float) dan mencatatkan lonjakan pendapatan pada semester pertama 2026.
Elandry Pratama, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, menyatakan bahwa free float TPIA kini mencapai sekitar 25,41%, melampaui batas minimum yang ditetapkan oleh regulator pasar modal Indonesia yaitu 15%. Menurutnya, pencapaian ini menjadi salah satu faktor pendorong setelah TPIA dikeluarkan dari indeks MSCI pada bulan Mei lalu.
Faktor Penentu Kembali Masuk MSCI
Meski demikian, Elandry mengingatkan bahwa peluang untuk kembali masuk ke dalam indeks MSCI tidak hanya ditentukan oleh besaran free float. Lembaga penyedia indeks global ini juga mempertimbangkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float, likuiditas perdagangan, serta aspek investability dan transparansi. "Jika fundamental membaik dan likuiditas perdagangan meningkat, peluang untuk kembali masuk indeks global akan semakin besar," ujarnya.
Dia menilai pertumbuhan pendapatan TPIA yang signifikan menunjukkan adanya perbaikan dalam volume penjualan dan kondisi bisnis petrokimia. Namun, penurunan laba bersih perusahaan mengindikasikan adanya tekanan pada margin yang masih berlangsung. Menurut Elandry, industri petrokimia sangat dipengaruhi oleh spread harga produk, harga bahan baku, serta permintaan global. Oleh karena itu, pemulihan kinerja TPIA harus dilihat tidak hanya dari pertumbuhan pendapatan, tetapi juga dari kemampuan perusahaan dalam menjaga profitabilitas.
Prospek Jangka Panjang TPIA
Dalam jangka panjang, prospek TPIA masih dianggap menarik karena merupakan pemain utama di sektor petrokimia di Indonesia dengan eksposur yang besar terhadap kebutuhan industri domestik. Peningkatan free float juga berpotensi meningkatkan likuiditas saham serta memperluas partisipasi dari investor institusi dan global. Namun, Elandry mengingatkan investor untuk tetap memantau siklus industri petrokimia global. Jika permintaan dunia belum pulih, tekanan terhadap margin diperkirakan masih akan berlanjut, sehingga volatilitas harga saham tetap tinggi.
Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi tersebut, Elandry memperkirakan saham TPIA masih memiliki peluang untuk naik ke level Rp 4.000 hingga Rp 6.000 hingga akhir tahun. Target tersebut bergantung pada perbaikan margin perusahaan, masuknya aliran dana asing, serta peluang TPIA untuk kembali masuk ke indeks MSCI.
Berdasarkan laporan kinerja keuangan semester pertama 2026, TPIA mencatatkan pendapatan sebesar US$ 5,35 miliar, meningkat 83,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan bisnis energi dan kimia yang masing-masing meningkat 29% dan 38%. Namun, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 77,5% menjadi US$ 283,23 juta atau sekitar Rp 5,11 triliun, dari US$ 1,26 miliar pada semester pertama 2025. Penurunan laba ini disebabkan oleh melemahnya margin bisnis energi, meskipun kerugian di segmen kimia telah menyempit.
Analis dari Sucor Sekuritas, Andreas, menilai hasil tersebut masih sedikit di bawah ekspektasi. Laba inti TPIA sepanjang semester pertama baru memenuhi sekitar 46% dari proyeksi laba inti sepanjang 2026 dan berada di bawah konsensus pasar. "Kami mempertahankan rekomendasi buy (beli) untuk saham TPIA dengan target harga Rp 6.200 per saham. Pada harga saat ini, TPIA diperdagangkan pada valuasi EV/EBITDA 9 kali untuk 2026 dan 7,9 kali untuk 2027, yang masih menarik," jelas Andreas dalam risetnya.
Dia juga menilai bahwa perubahan peta perdagangan energi global dapat menjadi peluang bagi TPIA. Bertambahnya kapasitas kilang di negara-negara seperti Cina dan Nigeria diperkirakan akan mengubah arus perdagangan global, sementara ekspor dari Rusia dan Iran terus tertekan akibat konflik geopolitik. Menurutnya, perubahan ini berpotensi menguntungkan TPIA dalam jangka menengah, terutama jika didukung oleh pemulihan permintaan global dan perbaikan margin industri petrokimia.
Sebelumnya, manajemen TPIA menyatakan bahwa lonjakan keuntungan perusahaan disebabkan oleh penyelesaian akuisisi Aster Chemicals and Energy. Hal ini dicatat sebagai akuntansi yang bersifat tidak berulang, sehingga tidak berasal dari aktivitas operasional yang rutin dihasilkan oleh perusahaan. Jika dampak negative goodwill dikecualikan, kinerja operasional Chandra Asri Group pada semester satu 2026 tetap menunjukkan performa yang kuat dengan EBITDA sebesar US$ 802,6 juta dan laba bersih US$ 371,2 juta.
Beberapa waktu lalu, MSCI baru saja mengubah metodologi penyaringan saham yang mengalami lonjakan harga ekstrem. Perubahan ini akan mulai berlaku pada peninjauan indeks Agustus 2026. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai respons terhadap meningkatnya fenomena kenaikan harga saham secara tajam dalam waktu singkat yang dianggap berpotensi mengurangi kualitas indeks jika tidak diimbangi dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang memadai.
EPI adalah metodologi penyaringan terhadap saham yang mengalami kenaikan harga sangat ekstrem dalam periode tertentu. MSCI melakukan ini karena kenaikan harga saham yang terlalu tinggi dapat menimbulkan pertanyaan mengenai apakah kenaikan tersebut mencerminkan proses pembentukan harga yang sehat dan dapat diakses oleh investor global. "MSCI mengonfirmasi bahwa pihaknya akan memperbarui perlakuan terhadap sekuritas yang mengalami Extreme Price Increase, yang berlaku mulai Index Review Agustus 2026," demikian pengumuman dari MSCI.
Dalam aturan terbaru tersebut, saham yang mengalami EPI dengan foreign inclusion factor (FIF) minimal 0,75 tidak lagi otomatis dikenakan penyaringan EPI. Artinya, saham tersebut tetap memiliki peluang untuk masuk ke MSCI Standard Index selama memenuhi seluruh persyaratan inklusi lainnya. FIF adalah indikator yang menunjukkan besarnya porsi saham suatu perusahaan yang secara efektif tersedia untuk dimiliki oleh investor asing. Semakin tinggi nilai FIF, semakin besar akses investor asing terhadap saham tersebut.
Sebaliknya, perlakuan berbeda akan tetap berlaku bagi saham yang mengalami EPI dengan FIF di bawah 0,75. Apabila saham tersebut belum menjadi bagian dari MSCI Investable Market Index (IMI), maka saham itu tidak akan langsung dimasukkan ke MSCI Standard Index meskipun telah memenuhi persyaratan ukuran dan likuiditas. Saham tersebut akan tetap berada dalam market investable universe dan baru akan dievaluasi kembali pada peninjauan indeks berikutnya. Dengan demikian, metodologi baru memberikan peluang lebih besar bagi saham EPI dengan FIF tinggi untuk masuk ke MSCI Standard Index, sementara saham dengan FIF rendah masih harus melalui proses evaluasi tambahan.
MSCI juga mengubah perlakuan terhadap saham yang telah menjadi konstituen MSCI Small Cap Indexes dan mengalami EPI. Evaluasi akan didasarkan pada ukuran kapitalisasi pasar dibandingkan dengan batas ukuran segmen pasar untuk Standard Index. Saham dengan kapitalisasi pasar penuh di bawah 1,8 kali batas ukuran segmen pasar Standard Index atau kapitalisasi pasar yang telah disesuaikan dengan free float di bawah 1,8 kali setengah batas ukuran segmen pasar Standard Index akan tetap dipertahankan sebagai konstituen MSCI Small Cap.