PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus melanjutkan proses transformasi yang menjadi dasar untuk menciptakan pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Transformasi yang dilakukan secara konsisten ini mulai terlihat dalam peningkatan kinerja BRI, termasuk laba bersih yang mencapai Rp31,2 triliun pada Triwulan II 2026, atau mengalami kenaikan sebesar 17,5% dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengungkapkan hal ini dalam konferensi pers mengenai Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 yang berlangsung di Kantor Pusat BRI, Jakarta, pada hari Senin, 31 Agustus. Dalam acara tersebut, hadir pula Wakil Direktur Utama BRI, Viviana Dyah Ayu R.K., Direktur Finance & Strategy, Achmad Royadi, Direktur Network & Retail Funding, Aquarius Rudianto, dan Direktur Manajemen Risiko, Ety Yuniarti.
Strategi Pertumbuhan yang Berkelanjutan
Hery menyatakan bahwa di tengah tantangan ekonomi dan ketidakpastian global yang tinggi, BRI berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan yang sehat, memperbaiki kualitas aset, dan memperkuat profitabilitas. Ia menegaskan, “Transformasi yang kami jalankan secara konsisten sejak manajemen baru hadir di BRI mulai menunjukkan hasil yang positif. Kami melakukan penguatan dari sisi bisnis, budaya dan efisiensi, digitalisasi, hingga manajemen risiko yang tetap kuat. Transformasi ini membuat BRI semakin produktif dan mampu menjaga pertumbuhan secara sehat.”
Lebih lanjut, Hery menambahkan bahwa BRI tidak hanya mengukur pertumbuhan dari besarnya laba, tetapi juga dari kualitas pertumbuhan itu sendiri. “Karena itu, Perseroan terus mendorong ekspansi bisnis secara selektif dan prudent, menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi, serta memperkuat tata kelola dan manajemen risiko di seluruh lini bisnis,” imbuhnya.
Inisiatif BRIVolution Reignite
Melalui program BRIVolution Reignite, BRI melanjutkan transformasi dengan dua agenda utama yang berjalan bersamaan, yaitu memperkuat pendanaan dan memperbaiki bisnis inti yang sudah ada, sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru. Dalam hal pendanaan, BRI berfokus untuk memperbesar basis dana murah dan transaksional dengan pendekatan berbasis ekosistem. Strategi ini dijalankan dengan memaksimalkan kapabilitas saluran digital, mulai dari akuisisi merchant, peningkatan transaksi melalui BRImo dan QRIS, hingga BRILink Agen.
Sementara itu, untuk bisnis inti, BRI melakukan pembaruan pada segmen mikro yang selama ini menjadi kekuatan utama perusahaan. Di saat yang sama, BRI mulai membangun sumber pertumbuhan baru dengan fokus pada optimalisasi potensi rantai nilai dan ekosistem, penyempurnaan proposisi nilai produk, serta perluasan layanan bullion bank melalui sinergi dengan BRI Group.
Hery menambahkan bahwa dengan fundamental yang semakin kuat dan arah transformasi yang jelas, BRI optimis dapat melanjutkan momentum positif ke depan. Penguatan ini juga memberikan ruang bagi BRI untuk terus mendukung berbagai agenda prioritas pemerintah dan berkontribusi pada perekonomian nasional, sambil tetap menjaga kualitas aset dan menerapkan prinsip kehati-hatian. “Bagi BRI, mendukung program pemerintah dan menjaga kualitas aset bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru keduanya harus berjalan bersama agar pertumbuhan yang kami hasilkan hari ini dapat menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang,” lanjutnya.
Dalam upaya untuk mendorong dan mempercepat pertumbuhan perekonomian Indonesia secara berkelanjutan, BRI secara aktif berperan sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan dan inklusi ekonomi. Peran ini diwujudkan melalui penyaluran kredit usaha rakyat (KUR), FLPP, dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis, pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta penyaluran berbagai bantuan sosial seperti PKH, sembako stimulus, dan BLTS Kesra.
Program-program tersebut merupakan bagian dari upaya BRI untuk memperluas dampak ekonomi kerakyatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara inklusif dan berkelanjutan. Peran BRI dalam mendukung berbagai agenda pembangunan nasional ini sejalan dengan upaya perseroan untuk terus memperkuat fundamental dan menjaga kualitas pertumbuhan bisnis. Hal ini tercermin dari kinerja BRI hingga Triwulan II 2026 yang tetap solid, baik dari sisi pertumbuhan bisnis, profitabilitas, efisiensi, maupun kualitas aset.
Hingga Triwulan II 2026, total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7% dibandingkan tahun lalu. Penyaluran kredit juga mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi sebesar 16,2% menjadi Rp1.646 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.581 triliun, tumbuh 6,7% YoY. BRI tidak hanya fokus pada peningkatan volume DPK, tetapi juga terus memperkuat kualitas pendanaan melalui peningkatan rasio CASA.
Peningkatan profitabilitas tersebut diiringi dengan perbaikan efisiensi dan kualitas aset. Cost of fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0% menjadi 2,4%, sedangkan cost to income ratio (CIR) membaik dari 41,9% menjadi 39,2%. Dari sisi kualitas aset, rasio non-performing loan (NPL) turun dari 3,0% menjadi 2,9%, dan cost of credit (CoC) membaik dari 3,4% menjadi 3,1%. Penguatan fundamental ini mendukung kemampuan perseroan dalam menghasilkan imbal hasil yang solid, dengan ROA BRI tetap terjaga pada kisaran 2,7%, dan return on equity (ROE) meningkat dari 16,6% pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8% pada Triwulan II 2026.
Meski terus bertransformasi, Hery menegaskan bahwa DNA BRI tetap sama, yaitu tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia. UMKM akan tetap menjadi inti bisnis BRI. Oleh karena itu, keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari kemampuan BRI dalam meningkatkan kinerja, tetapi juga dari seberapa besar pertumbuhan tersebut dapat menciptakan nilai dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.