Pendidikan

Peran Penting Storytelling dalam Kesehatan Mental dan Pendidikan

Storytelling atau seni bercerita memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental dan pendidikan, terutama di tengah tantangan sosial saat ini.

J
Jarot Kusna
19 June 2026 3 pembaca
kompas.com Sumber: kompas.com
Peran Penting Storytelling dalam Kesehatan Mental dan Pendidikan
Sumber gambar: kompas.com

KOMPAS.com - Dalam situasi meningkatnya kesepian, penurunan kemampuan fokus, dan masalah kesehatan mental yang kian meresahkan, storytelling atau seni bercerita dianggap memiliki kontribusi yang lebih mendalam daripada sekadar menyampaikan informasi. Dari perspektif neurosains, cerita dapat memengaruhi cara manusia berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan orang lain. Aktivitas sederhana seperti membaca juga dikatakan dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan rasa keterhubungan sosial.

Pernyataan ini disampaikan oleh Profesor Neurosains Konsumen dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura, Prof. Gemma Anne Calvert, dalam acara The UBM Studium Generale Series: 026 yang berjudul "Narratives That Heal: Storytelling, Communication, and Psychological Well-Being" yang diselenggarakan oleh Universitas Bunda Mulia (UBM). Dalam presentasinya, Gemma menekankan bahwa cerita telah menjadi bagian integral dalam kehidupan manusia, termasuk dalam menjaga kesehatan mental.

Kekuatan Cerita dalam Membangun Koneksi

Menurutnya, kekuatan dari storytelling terletak pada kemampuannya untuk menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam, sehingga membuat individu merasa lebih terhubung dengan lingkungan sosial mereka. Ia juga mengungkapkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa membaca selama lima menit dapat mengurangi tingkat stres hingga 20 persen. Aktivitas ini juga berkontribusi pada peningkatan fokus dan memperkuat rasa kebersamaan dengan orang lain.

Pentingnya Storytelling di Era Digital

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UBM, Symphony Alkeba Christian, menambahkan bahwa pemahaman tentang storytelling semakin penting di tengah tantangan sosial yang muncul di era digital. “Pandangan Prof. Gemma Anne Calvert menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada kemampuan membangun empati, kreativitas, dan koneksi antarmanusia,” tutup Symphony Alkeba Christian.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta dan merupakan hasil kolaborasi antara UBM dan NTU Singapura.

Artikel Terkait