Pendidikan

Potensi Hantavirus Menjadi Pandemi: Penjelasan dari Ahli Kesehatan

Hantavirus menjadi topik hangat di kalangan masyarakat, dengan kekhawatiran bahwa virus ini dapat menyebar seperti Covid-19. Seorang ahli epidemiologi memberikan penjelasan mengenai karakteristik penu...

J
Jaya Abdi
15 June 2026 1 pembaca
kompas.com Sumber: kompas.com
Potensi Hantavirus Menjadi Pandemi: Penjelasan dari Ahli Kesehatan
Sumber gambar: kompas.com

Belakangan ini, Hantavirus menjadi perbincangan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Banyak yang khawatir virus ini dapat berkembang menjadi pandemi serupa dengan Covid-19. Apakah Hantavirus benar-benar berpotensi menjadi pandemi baru? Ahli Epidemiologi dan Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Minsarnawati, menyatakan bahwa masyarakat harus tetap waspada, namun tidak perlu panik. Menurutnya, cara penularan Hantavirus sangat berbeda dari Covid-19, sehingga kemungkinan penyebarannya secara luas jauh lebih kecil.

Minsarnawati menjelaskan bahwa Covid-19 menular langsung antar manusia, sedangkan Hantavirus ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut. "Kalau Covid itu penularannya langsung dari manusia ke manusia. Sementara Hantavirus perantaranya adalah hewan pengerat seperti tikus dan celurut," ujarnya.

Perbedaan Penularan Hantavirus dan Covid-19

Lebih lanjut, Minsarnawati mengungkapkan bahwa kecepatan penyebaran Hantavirus berbeda dengan Covid-19. Covid-19 dapat menyebar melalui percikan air liur, sedangkan Hantavirus memerlukan kontak dengan hewan yang terinfeksi. Penularan Hantavirus terjadi ketika seseorang terpapar urin, air liur, kotoran, atau debu yang terkontaminasi oleh hewan pengerat. Penyakit ini termasuk dalam kategori zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia.

Dia menambahkan, "Kalau Corona kan dari manusia ke manusia melalui saluran pernafasan, sementara Hantavirus selama ini yang terjadi masih sebatas antarhewan, kemudian menular ke manusia." Data dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa Hantavirus telah terdeteksi di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat, Asia, Eropa, dan Afrika. Di Indonesia, terdapat laporan kasus Hantavirus, namun jenis virus yang ditemukan berbeda dari yang memiliki tingkat kematian tinggi di Amerika.

Kategori Hantavirus dan Langkah Pencegahan

Minsarnawati menjelaskan bahwa secara klinis, Hantavirus terbagi menjadi dua kategori utama. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan banyak ditemukan di Asia serta Eropa. Jenis ini pernah terkonfirmasi di Indonesia. Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan lebih umum di kawasan Amerika, di mana HPS diketahui memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan HFRS.

Dia juga menekankan bahwa ada kelompok yang lebih berisiko terpapar Hantavirus, seperti petugas kebersihan, pengelola sampah, petani, dan petugas laboratorium hewan yang sering berinteraksi dengan hewan pengerat atau lingkungan yang berpotensi terkontaminasi. Minsarnawati mengingatkan pentingnya langkah pencegahan dalam menghadapi Hantavirus. Masyarakat disarankan untuk menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan area kotor, dan memastikan makanan tersimpan dengan baik agar tidak menarik tikus.

"Kuncinya adalah menjaga kebersihan lingkungan kita. Tikus itu suka pada lingkungan yang kotor," tegasnya.

Selain menjaga kebersihan, masyarakat juga dianjurkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, cukup istirahat, dan menghindari begadang. Jika mengalami gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, lemas, mual, diare, atau memiliki riwayat kontak dengan tikus atau area terkontaminasi, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

Artikel Terkait