Ekonomi

ISSP: Menariknya Saham Pipa Baja dengan Yield 5 Persen

PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) akan memasuki periode cum dividen pada 17 Juni 2026 dengan dividen tunai sebesar Rp20 per saham, menawarkan dividend yield sekitar 5,1 persen.

D
Darma Yudhistira
15 June 2026 1 pembaca
ISSP: Menariknya Saham Pipa Baja dengan Yield 5 Persen
ISSP resmi melantai di Bursa pada 22 Februari 2013 melalui IPO dengan harga Rp295 per saham. (Foto: dok ISSP)

PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) akan memasuki masa cum dividen pada 17 Juni 2026, dengan dividen tunai yang ditetapkan sebesar Rp20 per saham. Dengan harga saham saat ini di Rp392, dividend yield yang ditawarkan mencapai sekitar 5,1 persen. ISSP telah beroperasi selama puluhan tahun dan dikenal sebagai salah satu produsen pipa baja terbesar di Indonesia, yang produk-produk tersebut digunakan dalam berbagai sektor, termasuk konstruksi, energi, infrastruktur, dan industri manufaktur.

Produk-produk yang dihasilkan oleh ISSP telah memenuhi berbagai standar internasional, seperti ASTM, BS, JIS, ISO, API, dan SNI, sehingga mampu menembus pasar ekspor ke negara-negara seperti Jepang, Singapura, Taiwan, Amerika Serikat, dan Australia.

Perjalanan IPO dan Kinerja Fundamental ISSP

ISSP resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 22 Februari 2013 melalui penawaran umum perdana saham (IPO) dengan harga Rp295 per saham. Pada saat itu, perusahaan melepaskan 2,9 miliar saham dan berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp856 miliar. Saat ini, jumlah saham yang beredar mencapai sekitar 7,19 miliar lembar dengan porsi free float sebesar 33,65 persen, memberikan likuiditas yang cukup baik bagi investor publik.

Dari segi fundamental, ISSP saat ini sedang mengalami fase konsolidasi setelah mencatatkan kinerja yang sangat baik dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2025, pendapatan perusahaan mencapai Rp5,93 triliun, dan pada kuartal pertama tahun 2026, pendapatan berada di level Rp1,22 triliun. Jika dihitung secara annualised, pendapatan tahun ini diperkirakan sekitar Rp4,89 triliun dengan TTM mencapai Rp5,87 triliun. Meskipun angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, hal ini masih menunjukkan skala bisnis yang signifikan untuk emiten manufaktur domestik.

Hal serupa juga terlihat pada laba bersih. Setelah mencatatkan laba sebesar Rp534 miliar pada tahun 2025, ISSP melaporkan laba sebesar Rp77 miliar pada kuartal pertama tahun 2026. Secara annualised, laba diperkirakan mencapai Rp308 miliar, sementara laba TTM masih berada di level Rp527 miliar. Penurunan ini juga tercermin pada EPS yang turun dari 74,35 menjadi sekitar 42,90 secara annualised, meskipun EPS TTM masih berada di level 73,31.

Meskipun laba mengalami normalisasi, kondisi keuangan ISSP tetap terlihat sehat. Current Ratio mencapai 2,99, menunjukkan bahwa perusahaan masih memiliki kemampuan yang baik untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Debt to Equity Ratio berada di level 0,36 dengan Long Term Debt to Equity hanya 0,19, sementara Altman Z-Score mencatat angka 6,15, yang mengindikasikan bahwa kondisi keuangan perusahaan berada dalam zona aman. Interest Coverage sebesar 4,28 kali juga menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga masih cukup kuat. Namun, perlu dicatat bahwa free cash flow kuartalan tercatat negatif Rp105 miliar, meskipun angka ini masih dapat ditoleransi untuk perusahaan manufaktur dengan kebutuhan modal kerja yang besar.

Stabilitas Harga Menjelang Cum Dividen

Menjelang cum dividen, pergerakan harga saham ISSP menunjukkan stabilitas. Dalam beberapa hari terakhir, saham bergerak dalam rentang harga Rp388 hingga Rp400, dan pada perdagangan terakhir ditutup di level Rp392, mengalami penurunan tipis sebesar 1,51 persen. Nilai transaksi yang terjadi tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp16,5 miliar dengan volume 42 ribu lot, namun volatilitas yang rendah menunjukkan bahwa investor cenderung memilih untuk menahan posisi menjelang pembagian dividen.

Dari sisi arus dana asing, terdapat pola yang menarik. Pada tanggal 9 dan 10 Juni, investor asing mencatatkan pembelian bersih masing-masing sebesar Rp246,11 miliar dan Rp188,49 miliar. Namun, setelah itu terjadi aksi jual bertahap dengan net foreign sell sebesar Rp137,75 miliar pada 11 Juni dan Rp167,17 miliar pada 12 Juni. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian investor asing mulai melakukan profit taking setelah penguatan sebelumnya, sementara investor domestik masih menjadi penopang utama pergerakan harga.

Broker summary menunjukkan gambaran yang lebih optimis. Broker Stockbit Sekuritas Digital (XL) menjadi pembeli terbesar dengan nilai akumulasi mencapai Rp557,4 juta pada harga rata-rata Rp396. Diikuti oleh broker MNC Sekuritas (EP) dengan nilai Rp351 juta dan broker Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) sebesar Rp60,9 juta. Di sisi penjual, broker KB Valbury Sekuritas (CP) mencatatkan nilai jual Rp157,3 juta dengan rata-rata harga Rp395, disusul oleh broker Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dan Mandiri Sekuritas (CC).

Orderbook juga menunjukkan sinyal yang menarik. Antrean beli terbesar berada di level Rp380 dengan lebih dari 11 ribu lot, diikuti oleh Rp384 sekitar 5 ribu lot dan Rp388 hampir 4.800 lot. Di sisi penawaran, tekanan jual terbesar berada di level Rp396 sebanyak 5.876 lot dan Rp400 sekitar 4.956 lot. Total antrean beli mencapai sekitar 51.762 lot, lebih besar dibandingkan antrean jual sekitar 30.729 lot. Rasio ini menunjukkan bahwa minat beli masih lebih dominan, dan area Rp388 hingga Rp392 berpotensi menjadi support jangka pendek.

Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp2,8 triliun, dividend yield lebih dari 5 persen, fundamental yang masih sehat, serta struktur orderbook yang cukup kuat, ISSP menawarkan kombinasi menarik antara saham dividen dan saham value. Tantangan utama yang dihadapi adalah perlambatan laba pada tahun 2026, namun selama permintaan pipa baja dari proyek infrastruktur dan sektor industri kembali meningkat, ISSP masih memiliki peluang untuk mempertahankan kinerja dan menjadi pilihan bagi investor yang mencari pendapatan dividen sekaligus potensi apresiasi harga dalam jangka menengah.

Artikel Terkait