Ekonomi

Proyeksi IHSG Menguat, Investor Asing Kembali Masuk Pasar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami pergerakan positif pada pekan ini seiring dengan masuknya dana asing dan berkurangnya kekhawatiran pasar.

D
Darma Yudhistira
15 June 2026 1 pembaca
Proyeksi IHSG Menguat, Investor Asing Kembali Masuk Pasar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat pada perdagangan pekan ini. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – IHSG diprediksi akan bergerak dengan variasi yang cenderung menguat pada perdagangan pekan ini, didorong oleh masuknya kembali dana dari investor asing serta meredanya beberapa kekhawatiran pasar terkait sentimen baik global maupun domestik. Pada penutupan perdagangan di hari Jumat, 12 Juni 2026, IHSG ditutup di angka 6.007, mengalami penguatan sebesar 7,38 persen dibandingkan dengan posisi sepekan sebelumnya yang sempat terkoreksi hingga 8,69 persen. Meskipun mengalami tekanan di awal pekan, indeks berhasil kembali ke zona positif hingga akhir perdagangan.

Imam Gunadi, seorang analis ekuitas dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menyatakan bahwa penguatan IHSG selama pekan lalu didorong oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang menunjukkan perbaikan. Dari sisi eksternal, pasar mencermati kenaikan inflasi di Amerika Serikat yang mencapai 4,2 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan dengan 3,8 persen pada bulan sebelumnya, dan merupakan level tertinggi sejak April 2023. Kenaikan inflasi ini terutama disebabkan oleh lonjakan harga energi akibat konflik yang melibatkan Iran, yang turut mendorong kenaikan harga bahan bakar dan biaya transportasi.

Sentimen Positif dari Geopolitik dan Ekonomi Domestik

“Meskipun inflasi yang lebih tinggi berpotensi membatasi ruang pemangkasan suku bunga oleh The Fed, pasar relatif merespons data tersebut secara positif,” ungkap Imam dalam risetnya pada Senin, 15 Juni 2026. Sentimen positif lainnya juga muncul dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Meskipun World Bank memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,6 persen, pasar menyambut baik informasi mengenai pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran terkait rancangan kesepakatan yang mencakup pencabutan sanksi ekspor minyak Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz. “Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak global yang sebelumnya sempat mendorong lonjakan harga energi,” tambahnya.

Dari sisi domestik, pasar juga memperhatikan posisi cadangan devisa Indonesia yang menurun menjadi USD144,9 miliar pada Mei 2026 dari USD146,2 miliar pada bulan sebelumnya. Meskipun mengalami penurunan, posisi tersebut masih dianggap kuat karena setara dengan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri, jauh di atas standar kecukupan internasional. Selain itu, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui rapat di luar jadwal pada 9 Juni 2026, sebagai langkah untuk meredam tekanan eksternal yang sempat mempengaruhi nilai tukar rupiah.

Perkembangan Sektor dan Aliran Dana Asing

Sentimen domestik juga mendapat dukungan dari klarifikasi Badan Pengelola Investasi Danantara mengenai kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Danantara menegaskan bahwa DSI tidak akan berfungsi sebagai trading house maupun mengambil margin perdagangan, sehingga mengurangi kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi gangguan arus kas dan kontrak ekspor. Di sektor otomotif, data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa penjualan mobil nasional pada Mei 2026 mencapai 69.219 unit, tumbuh 14 persen secara tahunan. Secara kumulatif, penjualan mobil selama lima bulan pertama tahun ini meningkat 12,8 persen menjadi 359.015 unit.

Namun, sektor ritel masih menghadapi tantangan, dengan penjualan ritel pada April 2026 mengalami kontraksi sebesar 3,7 persen secara tahunan, berbalik dari pertumbuhan 3,4 persen pada bulan sebelumnya. Imam juga mencatat adanya sinyal positif dari aliran dana asing yang mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia, dengan investor asing mencatatkan pembelian bersih senilai Rp287,4 miliar pada akhir pekan lalu. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa angka tersebut belum cukup untuk memastikan adanya perubahan tren secara menyeluruh.

Memasuki pekan ini, yang hanya berlangsung empat hari karena libur Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, investor akan memperhatikan sejumlah data ekonomi penting dari China dan Jepang. Dari China, perhatian pasar tertuju pada rilis data Produksi Industri yang menjadi indikator kekuatan pemulihan ekonomi dan aktivitas manufaktur negara tersebut. Data ini dianggap penting karena China merupakan mitra dagang utama serta tujuan ekspor nonmigas terbesar bagi Indonesia. Sementara itu, dari Jepang, pelaku pasar menunggu keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan akan naik 25 basis poin menjadi 1 persen dari sebelumnya 0,75 persen. Investor juga akan mencermati data inflasi Jepang untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter berikutnya.

Jika BoJ kembali menaikkan suku bunga atau memberikan sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, kondisi ini berpotensi memicu penutupan posisi carry trade dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Secara teknikal, Imam menilai IHSG masih berada dalam tren penurunan karena struktur pergerakannya masih membentuk lower low dan lower high. Namun, tekanan penurunan mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. “Dalam time horizon yang lebih pendek, atau sejak pertengahan April, pergerakan IHSG membentuk pola extension dan berpotensi telah menyelesaikan lima gelombang. Skenario ini akan terkonfirmasi apabila IHSG berhasil menembus level resistance di 6.286,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dua candle terakhir menunjukkan mulai munculnya keraguan di pasar. Setelah membentuk pola spinning top, IHSG sempat menembus area tersebut selama perdagangan berlangsung. Namun, indeks akhirnya ditutup dengan pola shooting star dan gagal menembus area resistance yang ada. “Dengan kondisi tersebut, secara teknikal IPOT melihat IHSG pada pekan ini berpotensi bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat apabila berhasil breakout dari pola shooting star. Sebaliknya, IHSG berpotensi melemah apabila mengalami breakdown dari pola tersebut. Adapun level resistance berada di 6.286, sementara level support berada di 5.695,” tutup Imam.

Artikel Terkait