Ilustrasi pendidikan vokasi. Di Sleman, tingginya tingkat pengangguran di kalangan lulusan terdidik di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh kurangnya lapangan kerja. Prof. Tadjuddin Noer Effendi, Guru Besar Fisipol UGM, mengungkapkan bahwa terdapat ketidaksesuaian antara kompetensi yang dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan di dunia kerja, yang mengakibatkan kesulitan bagi mereka untuk memasuki pasar kerja.
Menurut Tadjuddin, masalah ini berkaitan dengan pola pendidikan yang lebih banyak menekankan pada teori ketimbang keterampilan praktis. Ia menekankan bahwa dunia kerja saat ini membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki gelar pendidikan, tetapi juga keterampilan yang sesuai dengan tuntutan industri. "Dunia pendidikan banyak memberikan teori, sedangkan dunia kerja mencari orang yang sudah terampil. Pada umumnya sarjana itu datang bawa ijazah ke perusahaan, bukan bawa keterampilan," ujarnya.
Perkembangan Teknologi dan Kebutuhan Tenaga Kerja
Masalah ketidaksesuaian ini bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian Tadjuddin. Ia juga menyoroti perkembangan teknologi yang cepat, termasuk kemajuan dalam kecerdasan buatan (AI) dan robotika, yang memengaruhi kemampuan industri dalam menyerap tenaga kerja. Ia menjelaskan bahwa industri kini lebih memprioritaskan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi, sementara mahasiswa belum sepenuhnya mendapatkan bekal keterampilan teknologi selama pendidikan di perguruan tinggi.
"Ijazah yang dimiliki belum cukup menjadi dasar bagi perusahaan untuk menerima lulusan apabila tidak disertai keterampilan. Jadi kalau sarjana hanya bawa ijazah mencari kerja itu kelihatannya sekarang sulit," tambahnya. Dengan kondisi ini, latar belakang pendidikan saja tidak cukup untuk memastikan lulusan perguruan tinggi dapat langsung terjun ke dunia kerja. Keterampilan praktis menjadi kebutuhan yang harus diperkuat agar kompetensi lulusan lebih sesuai dengan permintaan industri.
Struktur Ekonomi dan Tantangan Pengangguran
Di sisi lain, Tadjuddin menilai bahwa pengangguran terdidik juga berkaitan dengan struktur ekonomi Indonesia yang belum mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas, terutama di sektor industri. Sektor industri padat karya, yang selama ini menjadi penyerap tenaga kerja, kini menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat. Hal ini mendorong perusahaan untuk melakukan efisiensi, termasuk pengurangan jumlah tenaga kerja.
Dampak dari situasi ini adalah meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah penyerapan tenaga kerja tidak hanya terkait dengan kesiapan lulusan, tetapi juga dengan kemampuan sektor industri dalam menyediakan pekerjaan.
Pentingnya Pelatihan Vokasi
Tadjuddin berpendapat bahwa program magang yang dilaksanakan pemerintah merupakan langkah positif, karena dapat membantu lulusan mendapatkan pengalaman dan keterampilan kerja. Namun, ia mencatat bahwa kapasitas program tersebut masih terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah pengangguran terdidik yang ada.
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk memperluas pusat pelatihan kerja modern yang berfokus pada kebutuhan industri. Pusat pelatihan ini diharapkan dapat menjadi jalur yang lebih cepat bagi lulusan perguruan tinggi yang belum terserap di pasar kerja untuk meningkatkan kompetensinya. "Seharusnya perlu pendirian pusat pelatihan yang dapat menjadi jalan lebih cepat untuk meningkatkan keterampilan lulusan khususnya pada sarjana yang belum terserap pasar kerja," tegasnya.
Menurut Tadjuddin, pemerintah dan perguruan tinggi perlu memperkuat pusat pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Sasaran utamanya adalah lulusan perguruan tinggi yang belum terintegrasi ke dunia kerja agar memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan oleh industri. Penguatan pelatihan vokasi ini dianggap sebagai salah satu solusi untuk mengatasi pengangguran terdidik. Selain meningkatkan keterampilan lulusan, langkah ini juga bertujuan agar kompetensi pencari kerja lebih sesuai dengan kebutuhan industri. "Kalau itu dapat terealisasi dengan baik, kemungkinan besar dalam dua atau lima tahun dapat menciptakan mungkin satu sampai dua juta penyerap pengangguran terdidik," pungkasnya.