Museum-museum di Indonesia mulai mengadopsi teknologi digital untuk membuat pengalaman belajar sejarah menjadi lebih menarik dan relevan bagi generasi muda. Inovasi ini meliputi penggunaan film dokumenter, animasi, multimedia, virtual reality, serta ruang imersif yang membuat pengunjung tidak hanya sekadar melihat koleksi, tetapi juga memahami konteks dan cerita di balik setiap koleksi tersebut.
Contoh Penerapan Teknologi di Museum
Salah satu contoh penerapan teknologi ini dapat dilihat di Museum Naskah Proklamasi, di mana kisah menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kini disampaikan tidak hanya melalui film dokumenter, tetapi juga dengan animasi yang menggunakan pendekatan visual yang lebih modern.
Transformasi yang serupa juga diterapkan di berbagai museum kepahlawanan, di mana diorama, multimedia, dan program edukasi interaktif digunakan untuk memperkaya pengalaman pengunjung. Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta, Paramita Jaya Yiyok T. Herlambang, menyatakan bahwa museum tetap memiliki relevansi sebagai ruang belajar sejarah, asalkan koleksi yang dimiliki dapat disampaikan dengan cara yang tepat. "Museum itu kita melihat dari koleksi dan storytelling-nya," ujarnya.
Peningkatan Kunjungan ke Museum
Yiyok menambahkan bahwa kekuatan museum tidak hanya terletak pada benda-benda yang dipamerkan, tetapi juga pada bagaimana koleksi tersebut diterjemahkan menjadi pengetahuan dan pemahaman tentang kebangsaan. Dia menjelaskan bahwa koleksi asli harus tetap menjadi fokus utama museum, namun cara penyampaian kepada pengunjung perlu diperbarui dengan memanfaatkan teknologi interaktif.
Menurutnya, "Museum jangan dipikir sebagai tempat yang mati. Museum harus hidup. Kalau orang dua atau tiga kali datang lalu bosan, berarti ada yang harus diubah." Peningkatan pengalaman berkunjung ini sejalan dengan meningkatnya minat terhadap wisata sejarah dan budaya, yang tercermin dari catatan Kementerian Kebudayaan mengenai 4,32 juta kunjungan ke museum dan cagar budaya sepanjang 2025.
Museum Nasional, misalnya, mengalami lonjakan pengunjung setelah revitalisasi, dengan sekitar 700.000 pengunjung tercatat sepanjang tahun 2025, dan rata-rata 10.000 hingga 12.000 orang setiap akhir pekan dan hari libur.
Revitalisasi Museum dan Cagar Budaya
Pada tahun 2025, Kementerian Kebudayaan melakukan revitalisasi terhadap 152 museum dan situs cagar budaya, yang mencakup penataan kawasan, peningkatan fasilitas, serta penguatan tata kelola. Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya. Namun, ia juga mencatat bahwa kebutuhan pelestarian yang terus meningkat belum selalu diimbangi dengan ketersediaan anggaran dan sumber daya manusia yang memadai.
Oleh karena itu, pemerintah mulai mendorong kolaborasi baru melalui skema public-private partnership (PPP) dengan melibatkan sektor swasta. "Kolaborasi ini menjadi salah satu solusi untuk mempercepat upaya pelestarian di tengah keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia," ujar Restu. Upaya pembenahan melalui teknologi dan revitalisasi ini diharapkan dapat menjadikan museum sebagai ruang belajar sejarah yang hidup dan menarik bagi masyarakat serta generasi muda.