Area padang rumput di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, mengalami dampak akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penanganan karhutla di Indonesia perlu beralih dari pola tanggap krisis menjadi sistem penjagaan hutan yang berkelanjutan. Prof. Priyono Suryanto, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, mengemukakan tiga transformasi strategis untuk memperkuat upaya tersebut.
Transformasi Strategis untuk Penanganan Karhutla
Tiga transformasi yang disarankan oleh Priyono meliputi perubahan dari ekosistem gotong royong krisis menjadi ekosistem gotong royong penjagaan hutan, pemanfaatan berbagai pengalaman sebagai memori strategis nasional, serta pergeseran dari ketahanan reaktif menjadi ketahanan antisipatif. "Ketangguhan tidak cukup diukur dari kemampuan memadamkan kebakaran besar. Ketangguhan sendiri berarti kemampuan membaca risiko lebih dini, mengurangi kerentanan, menjaga fungsi ekosistem, dan bertindak sebelum ancaman berubah jadi bencana," ujar Priyono pada Sabtu (22/8/2026).
Priyono menekankan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kapasitas kelembagaan yang kuat dalam menghadapi karhutla. Saat kebakaran terjadi, berbagai unsur dapat berkolaborasi untuk melakukan pemadaman. Kemampuan ini menjadi modal sosial dan kelembagaan yang penting, namun kekuatan gotong royong tersebut lebih terlihat sebagai respons saat krisis dibandingkan sebagai sistem penjagaan sebelum bencana.
Memperkuat Gotong Royong dalam Penjagaan Hutan
Menurut Priyono, gotong royong Indonesia kuat sebagai respons, tetapi belum cukup kuat sebagai struktur penjagaan. "Solidaritas kelembagaan mencapai puncaknya ketika kebakaran terjadi, tetapi belum selalu bertahan dengan kekuatan yang sama ketika hutan sedang tidak terbakar," jelasnya. Ia juga menyatakan bahwa kelemahan dalam penanganan karhutla bukan hanya disebabkan oleh tidak adanya program pencegahan, melainkan tantangan dalam menjaga kontinuitas, integrasi, dan keberlanjutan program tersebut setelah situasi darurat berakhir.
Priyono, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Masyarakat Agroforestri Indonesia (MAFI), menegaskan bahwa risiko kebakaran tetap ada meskipun kondisi darurat telah berlalu. "Padahal risiko kebakaran tidak pernah benar-benar hilang. Kerentanan terus berkembang melalui kondisi gambut, aktivitas ekonomi, perubahan penggunaan lahan, iklim, dan dinamika sosial. Karena itu pencegahan harus menjadi ekosistem penjagaan yang berkelanjutan," tambahnya.
Berbeda dengan gotong royong yang muncul setelah ancaman, ekosistem penjagaan hutan harus memastikan seluruh aktor tetap terhubung ketika tidak ada kebakaran. Priyono menyebutkan bahwa pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, aparat, dan berbagai organisasi perlu berada dalam satu ekosistem. Mereka tidak hanya bertugas saat kebakaran terjadi, tetapi juga harus mampu membaca risiko, memantau perubahan bentang alam, menjaga fungsi ekologis, mengembangkan pengetahuan, serta melakukan intervensi dini.
Menciptakan Memori Strategis Nasional
Priyono juga mendorong transformasi kedua, yaitu mengubah pengalaman penanganan karhutla menjadi memori strategis nasional. Setiap kejadian seharusnya memberikan peningkatan kapasitas pengetahuan dan perbaikan sistem penanganan. "Indonesia telah memiliki modal kuat berupa kemampuan gotong royong ketika menghadapi krisis. Modal tersebut perlu dikembangkan agar tidak hanya berfungsi ketika api telah muncul," jelasnya.
Transformasi ketiga yang disoroti Priyono berkaitan dengan ketahanan dalam menghadapi karhutla. Ia menilai bahwa ketahanan reaktif perlu diarahkan menjadi ketahanan antisipatif yang mampu membaca dan menangani risiko sebelum berkembang menjadi bencana. "Keberhasilan penanganan karhutla tidak seharusnya hanya dilihat dari seberapa besar kemampuan mengerahkan operasi pemadaman. Ukuran keberhasilan justru dapat terlihat ketika operasi pemadaman berskala besar semakin jarang diperlukan," tuturnya.
Priyono menekankan bahwa ukuran keberhasilan penanganan karhutla pada akhirnya bukan terletak pada seberapa besar operasi pemadaman yang dapat dilakukan, melainkan ketika operasi pemadaman besar semakin jarang diperlukan karena bentang alam telah dijaga sebelum api datang.