Ekonomi

Amman Mineral Memasuki Fase Baru dengan Cadangan Besar di Sumbawa

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) telah memasuki fase baru setelah menyelesaikan Fase 7, dengan cadangan dan kualitas bijih yang lebih tinggi di Tambang Batu Hijau, memperpanjang usia tambang...

D
Dinda Mughni
03 September 2026 1 pembaca
Nur Hana Putri Nabila
Nur Hana Putri Nabila

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) kini memasuki fase baru dalam operasionalnya. Setelah menyelesaikan Fase 7, perusahaan ini kini mengakses cadangan yang lebih besar dan bijih dengan kadar mineral yang lebih tinggi di Tambang Batu Hijau. Dalam Fase 8, AMMN memiliki cadangan sekitar 460 juta ton, yang memperpanjang umur tambang di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, hingga tahun 2030.

Proses transisi menuju Fase 8 telah dimulai sejak tahun 2021, di mana AMMN telah melakukan pengupasan batuan penutup untuk membuka akses ke lapisan bijih yang mengandung tembaga dan emas dengan kualitas lebih baik. Hasil dari upaya ini mulai terlihat pada kuartal pertama tahun 2026, dengan volume bijih yang ditambang melonjak dari 1 juta ton menjadi 38 juta ton. Kualitas bijih juga mengalami peningkatan, di mana kadar tembaga naik dari 0,31% menjadi 0,53% dan kadar emas meningkat dari 0,17 gram menjadi 0,54 gram per ton.

Peningkatan Produksi dan Kinerja Keuangan

Peningkatan kadar bijih ini berdampak positif pada produksi, di mana konsentrat yang dihasilkan melonjak 110% menjadi 167.792 metrik ton kering. Kadar tembaga dalam konsentrat meningkat 173% menjadi 101 juta pon, sedangkan produksi emas meningkat 321% menjadi 136.115 ons. Direktur Utama AMMN, Arief Sidarto, mengungkapkan, "Kami mengawali tahun 2026 dengan eksekusi yang kuat dan kinerja operasional yang solid di seluruh lini bisnis. Dari sisi pertambangan, produksi konsentrat mencapai 167.792 metrik ton kering, didukung oleh peningkatan jumlah bijih segar yang ditambang serta perbaikan kadar bijih."

Peralihan ke Fase 8 juga bertepatan dengan selesainya pembangunan smelter. AMMN berhasil memproduksi 27.670 ton katoda tembaga dan 66.209 ons emas murni, yang memperkuat rantai operasi dari penambangan hingga pengolahan dan pemurnian mineral. Memasuki tahun ke-10, AMMN menargetkan peningkatan produksi hingga tahun 2030. Presiden Direktur Amman Mineral Nusa Tenggara, Rachmat Makkasau, memproyeksikan bahwa produksi katoda tembaga akan mencapai 162.662 ton pada tahun 2026, dan melonjak hampir dua kali lipat menjadi 310.256 ton pada tahun 2027.

Proyek Eksplorasi dan Hilirisasi

AMMN juga berupaya untuk mempercepat eksplorasi di Cebakan Elang, yang diperkirakan akan memperpanjang umur tambang di Sumbawa. Blok Elang memiliki cadangan bijih sekitar 2,52 miliar ton dengan kadar tembaga 0,32% dan emas 0,33 gram per ton. Potensi besar dari Elang tercermin dalam klasifikasi United States Geological Survey (USGS) sebagai deposit Super Giant Cu-Au Porphyry, menjadikannya salah satu sumber daya tembaga dan emas terbesar di dunia yang belum dikembangkan.

VP Corporate Communications AMMN, Kartika Octaviana, menyatakan bahwa aksi penambangan di Cebakan Elang direncanakan setelah usia tambang Batu Hijau berakhir pada tahun 2046. "Peningkatan cadangan berpotensi mendorong produksi dan memperpanjang umur tambang secara signifikan, tidak hanya berdampak positif bagi bisnis, tetapi juga memperkuat kontribusi terhadap industri pertambangan dan perekonomian daerah serta nasional," ungkapnya.

AMMN juga tengah memperluas pabrik konsentrator untuk meningkatkan kapasitas pengolahan bijih menjadi sekitar 85 juta ton per tahun. Investasi besar-besaran dilakukan dengan membangun smelter tembaga dan Precious Metals Refinery (PMR) dengan total investasi mencapai US$ 1,462 miliar atau sekitar Rp 25,97 triliun. Smelter ini telah mencapai kapasitas maksimum sejak Juni 2026 dan menggunakan teknologi Double Flash Cyclone untuk proses smelting, converting, dan casting.

Dengan berbagai inovasi dan peningkatan yang dilakukan, AMMN berhasil membalikkan kerugian menjadi laba hingga kuartal pertama tahun 2026, mencatatkan laba bersih sebesar US$ 160,16 juta atau sekitar Rp 2,84 triliun. Penjualan juga melonjak 385 kali lipat menjadi US$ 807,91 juta, didorong oleh penjualan katoda tembaga, emas murni, dan konsentrat. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa AMMN tidak hanya berfokus pada Batu Hijau, tetapi juga mempersiapkan sumber pertumbuhan baru untuk masa depan.

Artikel Terkait