Kesehatan

Anak 11 Tahun Mengalami Patah Tulang Akibat Gempa di NTT Jalani Operasi di RS Lapangan

Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang menjadi korban gempa di Nusa Tenggara Timur menjalani operasi patah tulang di Rumah Sakit Lapangan. Operasi ini merupakan tindakan medis pertama yang dilak...

I
Indriani Atmaja
21 August 2026 20 pembaca
Foto: Dokumentasi Kementerian Kesehatan RI
Foto: Dokumentasi Kementerian Kesehatan RI

Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun menjadi salah satu korban gempa yang mengguncang Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak tersebut mengalami patah tulang paha akibat bencana tersebut dan harus menjalani operasi untuk pemasangan pen. Tindakan medis ini dilaksanakan di Rumah Sakit (RS) Lapangan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang terletak di Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai.

Operasi berlangsung pada Rabu, 19 Agustus 2026, di ruang operasi RS Lapangan Ruteng. Tindakan ini dipimpin oleh dr. Basuki, seorang dokter spesialis ortopedi dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Dalam keterangan tertulisnya, dr. Basuki menyatakan, "Hari ini kami baru selesai operasi pemasangan pen di paha seorang anak usia 11 tahun yang patah akibat gempa di kamar operasi Rumah Sakit Lapangan Ruteng yang dimiliki oleh Pusat Krisis Kementerian Kesehatan."

Peran Penting RS Lapangan dalam Penanganan Korban

Dr. Basuki mengungkapkan bahwa keberadaan RS Lapangan sangat krusial dalam menangani korban gempa, terutama bagi pasien yang memerlukan tindakan operasi. Ia menambahkan, fasilitas ini dapat menjadi penopang layanan kesehatan ketika rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya terdampak bencana dan tidak dapat beroperasi secara optimal. "Fasilitas ini sangat membantu untuk pelayanan kesehatan, terutama untuk operasi ketika rumah sakit ataupun fasilitas kesehatan yang lain terdampak gempa ataupun tidak dapat digunakan," ujarnya.

Dia berharap agar kondisi anak tersebut segera membaik dan dapat kembali melakukan aktivitas yang disukainya. "Semoga adik ini nanti bisa sehat kembali dan bisa menjadi pelari ulung karena dia adalah seorang anak yang suka berlari," tuturnya.

Pembangunan RS Lapangan yang Cepat

Ketua Tim EMT Komposit Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI di Ruteng, dr. Franky Rumondor, menjelaskan bahwa pembangunan RS Lapangan dilakukan dalam waktu hampir 30 jam. "Kami membangun rumah sakit lapangan itu selama kurang lebih hampir 30 jam dini hari dengan kondisi cuaca yang dingin dan dengan 13 personel yang membangun rumah sakit lapangan ini," jelas dr. Franky.

Sebanyak 13 personel dikerahkan untuk membangun RS Lapangan sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak gempa di Kabupaten Manggarai. Dr. Franky merasa bersyukur RS Lapangan tersebut dapat segera digunakan untuk memberikan pelayanan medis, termasuk operasi bagi korban gempa. "Hari ini kami bersyukur telah berlangsung operasi pertama di rumah sakit lapangan yang berada di Stadion Golo Dukal di Kabupaten Manggarai. Dan 13 orang ini adalah orang-orang yang hebat," ungkapnya.

Dia menambahkan, "Mereka adalah orang-orang yang luar biasa yang dikirimkan oleh Pusat Krisis Kementerian Kesehatan untuk membantu masyarakat, saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Kabupaten Manggarai." RS Lapangan kini menjadi salah satu fasilitas penting dalam mendukung pelayanan kesehatan bagi warga yang terkena dampak gempa di Manggarai, dengan harapan layanan medis, termasuk tindakan operasi, dapat terus diberikan selama proses pemulihan pascabencana.

Artikel Terkait