Jakarta - Batu ginjal yang sebelumnya dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang orang dewasa kini semakin banyak didiagnosis pada anak-anak dan remaja. Penyakit ini sering kali terkait dengan dehidrasi, pola makan yang tidak sehat, obesitas, serta gangguan metabolisme. Menurut Dr. Arun Kumar Balakrishnan, seorang ahli urologi onkologi, dalam dua dekade terakhir, angka kejadian batu ginjal pada anak-anak meningkat secara signifikan di seluruh dunia.
“Yang lebih penting, komposisi batu-batu ini—terutama batu kalsium oksalat—sekarang mencerminkan kondisi batu ginjal pada orang dewasa, menunjukkan adanya perubahan nyata dalam pola kesehatan anak-anak, bukan hanya hasil dari deteksi yang lebih baik,” tambahnya.
Penyebab Peningkatan Kasus Batu Ginjal pada Anak
Dr. Balakrishnan menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama meningkatnya kasus batu ginjal di kalangan anak-anak adalah dehidrasi kronis. “Banyak anak tidak minum air dalam jumlah yang cukup, sementara mereka semakin bergantung pada minuman manis, soda, dan jus kemasan,” ujarnya. Di iklim yang hangat, dehidrasi kronis dapat menyebabkan urine menjadi pekat, menciptakan kondisi yang ideal untuk pembentukan kristal dan batu ginjal.
Selain itu, perubahan pola makan juga berkontribusi. Kebiasaan mengonsumsi makanan modern yang kaya akan camilan olahan, makanan cepat saji, serta makanan tinggi natrium dapat meningkatkan ekskresi kalsium dalam urine, yang secara langsung mendorong pembentukan batu ginjal. “Konsumsi berlebihan makanan cepat saji dan minuman kaya fruktosa semakin meningkatkan kadar kalsium, oksalat, dan asam urat dalam urine,” jelasnya. “Asupan kalsium yang rendah justru dapat meningkatkan penyerapan oksalat dari usus, sehingga meningkatkan risiko batu kalsium oksalat,” tambahnya.
Faktor Lain yang Berkontribusi
Gaya hidup yang kurang aktif dan meningkatnya obesitas di kalangan anak-anak juga menjadi faktor penyebab lainnya. Hal ini mengakibatkan perubahan metabolisme yang mirip dengan yang terjadi pada orang dewasa. “Berkurangnya aktivitas fisik, rutinitas yang bergantung pada layar, dan diet yang tinggi kalori semakin dikaitkan dengan penyakit batu ginjal pada anak-anak,” ungkapnya.
Faktor genetika juga berperan penting. Anak-anak yang memiliki riwayat keluarga dengan batu ginjal memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi ini. Selain itu, gangguan metabolisme bawaan tertentu dapat membuat anak-anak lebih rentan terhadap batu ginjal yang berulang atau muncul lebih awal. “Dalam banyak kasus, faktor gaya hidup dan kerentanan genetik bekerja bersama-sama,” jelas Dr. Balakrishnan.
Tanda-tanda Batu Ginjal pada Anak
Dr. Balakrishnan mengingatkan orang tua untuk mewaspadai tanda-tanda yang mungkin menunjukkan adanya batu ginjal pada anak. Gejala yang perlu diperhatikan meliputi nyeri perut atau pinggang yang berulang, sensasi terbakar saat berkemih, darah dalam urine, infeksi saluran kemih yang berulang, muntah disertai rasa sakit, serta perubahan perilaku seperti mudah marah tanpa alasan yang jelas. “Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak mungkin tidak selalu dapat menjelaskan gejala yang mereka alami dengan jelas, yang dapat mengakibatkan penundaan diagnosis,” peringatnya.
“Batu ginjal pada anak-anak bukan hanya sekadar episode yang menyakitkan. Penyakit batu ginjal yang muncul sejak dini dapat membawa risiko kekambuhan seumur hidup yang tinggi dan dapat menyebabkan infeksi berulang, obstruksi saluran kemih, kerusakan ginjal, dan bahkan penyakit ginjal kronis jika tidak diobati,” tambahnya.
Langkah Pencegahan untuk Orang Tua
Menurut Dr. Balakrishnan, banyak kasus batu ginjal yang sebenarnya bisa dicegah. Hidrasi yang cukup menjadi langkah pencegahan yang paling penting. “Mendorong anak-anak untuk minum air yang cukup sepanjang hari, terutama saat di sekolah dan saat beraktivitas di luar ruangan, sangatlah penting,” ujarnya. Selain itu, orang tua juga perlu memperhatikan pola makan dan minum anak, terutama terkait asupan garam serta makanan dan minuman manis.
“Mengurangi asupan garam berlebih, membatasi makanan olahan dan minuman manis, mendorong aktivitas fisik, serta memastikan asupan kalsium yang seimbang dapat secara signifikan mengurangi risiko terjadinya batu ginjal,” tutupnya.