Kondisi keuangan di Asia saat ini dinilai memiliki kemiripan yang signifikan dengan situasi sebelum terjadinya krisis pada tahun 1997. Guncangan ekonomi pada masa itu ditandai dengan penurunan nilai tukar, pelarian modal, dan kegagalan bank yang menyebabkan beberapa negara terjerumus ke dalam resesi. Pendapat ini diungkapkan oleh Kepala Ekonom HSBC, Frederick Neumann, dalam sebuah catatan yang dirilis pada 31 Agustus 2026.
Neumann mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah indikator yang mengingatkan pada periode menjelang krisis Asia 1997. Di antara indikator tersebut adalah lonjakan imbal hasil obligasi AS, pelemahan yen Jepang, serta optimisme yang tinggi di sektor teknologi. Dalam catatannya, Neumann juga menekankan bahwa kenaikan imbal hasil US Treasury merupakan salah satu kesamaan utama dengan kondisi sebelum krisis 1997. Sebagai ilustrasi, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun meningkat dari sekitar 5% pada Oktober 1993 menjadi sekitar 8% pada November 1994. Bahkan pada April 1997, imbal hasil obligasi AS masih tinggi, berada di kisaran 7%.
Pergerakan Yen dan Imbal Hasil Obligasi
Saat ini, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun telah meningkat dari level terendah sekitar 0,5% pada Agustus 2020 menjadi sekitar 4,79%. Neumann menyatakan, "Memang, kenaikan tersebut berlangsung selama enam tahun. Namun, hanya pada tahun ini, imbal hasil telah melonjak sekitar 80 basis poin dari 3,9% pada Februari." Departemen Keuangan AS juga baru-baru ini mengumumkan rencana untuk menargetkan obligasi tenor 10 hingga 30 tahun dalam program pembelian kembali atau buyback, dengan rencana untuk menggandakan batas maksimum operasi buyback dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar.
Pergerakan yen Jepang juga menjadi faktor yang dinilai memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang krisis 1997. Pada April 1995, yen diperdagangkan di sekitar 80 yen per dolar AS. Dua tahun kemudian, pada April 1997, yen telah melemah hingga sekitar 130 yen per dolar AS, mengalami depresiasi sekitar 55%. Dalam beberapa tahun terakhir, yen melemah sekitar 57% dari level terendah sekitar 103 yen per dolar AS pada Januari 2021 hingga mencapai 163 yen per dolar AS pada Juli. Yen kemudian menguat setelah adanya intervensi bersama antara pemerintah AS dan Jepang, dan saat ini berada di sekitar 160 per dolar AS, dengan pasar kembali memantau kemungkinan intervensi berikutnya.
Optimisme di Sektor Teknologi
Selain faktor imbal hasil obligasi dan pergerakan mata uang, optimisme di sektor teknologi juga menjadi kesamaan lainnya. Menjelang krisis 1997, perkembangan internet menciptakan optimisme besar di pasar terhadap sektor teknologi. Kini, situasi serupa muncul dengan ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Meskipun terdapat sejumlah kesamaan, Neumann menegaskan bahwa perbedaan antara kondisi Asia pada 1997 dan 2026 jauh lebih besar. Perbedaan utama terletak pada posisi negara-negara Asia dalam arus modal global. Pada tahun 1990-an, sebagian besar negara Asia merupakan pengimpor modal, menerima lebih banyak investasi dari luar negeri dibandingkan yang mereka tanamkan di luar negeri.
Di sisi lain, tingkat tabungan domestik saat itu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan belanja. "Biaya pendanaan dalam dolar AS yang meningkat dan yen yang bergejolak sehingga membuat investor khawatir menjadi katalis utama tekanan di kawasan tersebut," jelas Neumann. Saat ini, negara-negara Asia telah bertransformasi menjadi eksportir modal, sehingga kenaikan biaya pendanaan AS dan pelemahan yen tidak lagi menjadi sumber tekanan utama seperti pada 1990-an. Namun, Neumann mengingatkan bahwa Asia tidak sepenuhnya kebal terhadap guncangan ekonomi global.
Menurutnya, kerentanan terbesar Asia saat ini justru berasal dari ketergantungan terhadap permintaan produk teknologi, terutama perangkat keras yang terkait dengan industri AI. Ledakan ekspor produk elektronik yang berkaitan dengan AI selama ini telah mendukung pertumbuhan ekonomi beberapa negara Asia, termasuk Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura. "Alih-alih menghadapi kerentanan finansial seperti pada 1990-an, Asia kini menghadapi kerentanan permintaan," ungkap Neumann. Ia memperingatkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi AS dan biaya pendanaan yang semakin tinggi dapat menekan pertumbuhan industri perangkat keras AI.