Jakarta - Banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa kesepian dapat memberikan dampak yang besar terhadap fungsi otak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan sosial memiliki peranan yang sama pentingnya dengan kebutuhan dasar seperti makanan dan air. Para ahli menyatakan bahwa kesepian dapat memicu sinyal stres yang nyata, yang berdampak jangka panjang pada kesehatan seseorang.
Kesepian dan Rasa Lapar
Penelitian mengungkapkan bahwa kesepian dapat memicu respons saraf di otak yang mirip dengan saat seseorang merasa lapar. Dalam sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2020, para ahli saraf meminta 40 peserta yang sehat untuk menjalani isolasi selama 10 jam, diikuti dengan puasa selama 10 jam. Setelah kedua periode tersebut, peneliti menggunakan pemindaian fMRI untuk mengukur aktivitas otak dan membandingkannya dengan kondisi normal peserta.
Ditemukan bahwa ketika seseorang merasa lapar dan ketika seseorang yang terisolasi merasakan kesepian, kedua kondisi ini menghasilkan pola aktivitas otak yang serupa. Para peneliti berteori bahwa respons ini mungkin merupakan cara otak untuk memberi sinyal agar individu kembali terhubung dengan orang lain.
Pikiran Negatif dan Agresivitas
Kesepian juga dapat menyebabkan seseorang lebih fokus pada aspek negatif dari situasi yang dihadapi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kesepian memicu respons di lobus posterior, bagian otak yang berhubungan dengan perhatian. Peningkatan perhatian ini dapat menjelaskan mengapa individu yang kesepian cenderung lebih terfokus pada diri mereka sendiri.
Penelitian lain menunjukkan bahwa pola pikir negatif ini dapat menciptakan siklus yang sulit dipecahkan. Kesepian sering kali memicu pikiran negatif, dan semakin banyak pikiran negatif yang muncul dapat berhubungan dengan tingkat kesepian yang lebih tinggi. Pada beberapa individu, kesepian bahkan dapat memicu sikap bermusuhan atau agresif, yang mungkin merupakan mekanisme pertahanan karena ketakutan akan penolakan lebih lanjut. Ironisnya, perilaku ini justru dapat menjauhkan mereka dari orang lain yang sebenarnya mereka butuhkan.
Kesulitan dalam Mempercayai Orang Lain
Orang yang mengalami kesepian cenderung lebih waspada terhadap ancaman di sekitarnya, yang dapat menghambat kemampuan mereka untuk mempercayai orang lain. Dalam sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2021, peneliti merekrut 42 individu yang mengalami kesepian berat tanpa adanya diagnosis gangguan kesehatan mental serius, dan membandingkan mereka dengan kelompok kontrol yang juga terdiri dari 42 orang.
Pada salah satu tugas, peserta diberikan uang virtual dan diminta untuk memutuskan apakah akan menyimpan uang tersebut atau membagikannya dengan peserta lain. Jika uang tersebut dibagikan, nilainya akan meningkat tiga kali lipat. Namun, peserta yang kesepian cenderung membagikan lebih sedikit uang dibandingkan dengan mereka yang tidak kesepian. Hasil pemindaian fMRI menunjukkan bahwa individu yang kesepian memiliki aktivitas otak yang lebih rendah di area yang berkaitan dengan pembentukan rasa percaya.
Selain itu, analisis terhadap sampel darah dan air liur menunjukkan bahwa kadar oksitosin, hormon yang berperan dalam membangun ikatan sosial, lebih rendah pada peserta yang kesepian. Mereka juga melaporkan bahwa suasana hati mereka tidak meningkat setelah melakukan percakapan ringan, berbeda dengan peserta yang tidak kesepian.
Dampak pada Fungsi Kognitif
Bersosialisasi adalah cara penting untuk merangsang otak. Tanpa interaksi sosial, fungsi kognitif seseorang dapat menurun. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengalami tingkat kesepian di atas rata-rata mengalami perubahan pada otak. Salah satu studi mengamati kondisi kesehatan 25 peserta ekspedisi kutub yang hidup terisolasi di Antartika selama 12 bulan.
Selama periode isolasi tersebut, para peserta mengalami penurunan volume materi abu-abu di otak, terutama di area seperti hipokampus dan talamus. Selain itu, terdapat peningkatan risiko demensia pada individu yang mengalami isolasi sosial.