Kesehatan

Faktor-Faktor yang Meningkatkan Risiko Aritmia dan Pencegahannya

Aritmia, yang dapat memicu henti jantung mendadak, memiliki berbagai faktor risiko yang perlu diperhatikan. Seorang ahli menjelaskan bahwa pencegahan aritmia tidak dapat dijamin sepenuhnya.

A
Agus Wigati
16 August 2026 23 pembaca
Foto: Ilustrasi sakit jantung (Getty Images/Peerapat_Lekkla)
Foto: Ilustrasi sakit jantung (Getty Images/Peerapat_Lekkla)

Jakarta - Aritmia, yang merupakan gangguan irama jantung, dapat berujung pada kondisi serius seperti henti jantung mendadak. Apakah penyakit ini dapat dicegah? Menurut dr. Simon Salim, SpPD-KKV, spesialis penyakit dalam subspesialis kardiovaskular dari Brawijaya Hospital, sebagian besar kasus henti jantung mendadak berkaitan dengan faktor genetik. "Jadi kita susah bilang bahwa dia bisa dicegah, 100% dicegah," ujarnya dalam program detikSore pada Jumat (14/8/2026).

Penyebab Aritmia yang Kompleks

Dalam konteks penyakit, terdapat istilah yang disebut penyebab yang diperlukan (necessary cause), yaitu faktor yang harus ada sebelum penyakit muncul. Namun, dr. Simon menjelaskan bahwa pada aritmia tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat diidentifikasi. "Sayangnya di aritmia itu tidak ada seperti itu. Dia kombinasi dari berbagai faktor," tambahnya.

Berbagai faktor dapat berkontribusi terhadap munculnya aritmia, termasuk gaya hidup, penggunaan obat-obatan, kebiasaan merokok, dan kurang tidur. Masing-masing individu mungkin memiliki tingkat pengaruh yang berbeda dari setiap faktor. Selain itu, kondisi kesehatan sebelumnya, seperti diabetes, penyakit jantung, atau riwayat operasi jantung, juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami aritmia. "Jadi nggak ada single cause yang benar-benar kita bisa hilangkan kemudian membuat seseorang itu kebal terhadap aritmia," jelasnya.

Usia dan Risiko Aritmia

Data menunjukkan bahwa aritmia lebih umum terjadi pada orang yang berusia lebih tua. Beberapa jenis aritmia memiliki usia sebagai faktor utama. "Jadi dengan bertambahnya usia meskipun dia sehat, nggak ada kencing manis, darah tinggi, nggak merokok, nggak ngapa-ngapain, tapi dia hanya bertambah usia, risiko dia untuk mendapatkan aritmia jenis tertentu, karena aritmia itu banyak, meningkat," ungkap dr. Simon.

Namun, hal ini tidak berarti bahwa individu yang lebih muda terhindar dari risiko aritmia. "Kita harapkan justru memang banyak orang muda yang ketika dia mencurigai dirinya aritmia, dia mau berobat," tambahnya.

Aritmia dapat menyebabkan henti jantung mendadak, dan gejalanya terkadang tidak terlihat. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami tanda-tanda dan risiko yang terkait dengan kondisi ini.

Artikel Terkait