Nasional

Gelombang Protes Kampus Reformasi: Saat Mahasiswa Trisakti Menembus Barikade dan Menagih Janji Istana

S
Safeera Anisa
30 October 2026 2 pembaca
Mahasiswa Universitas Trisakti menggelar unjuk rasa di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026) sore. (KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo)
Mahasiswa Universitas Trisakti menggelar unjuk rasa di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026) sore. (KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo)

JAKARTA — Pergerakan massa yang membawa gelombang aspirasi masyarakat kembali mewarnai kawasan ibu kota pada Kamis (29/10/2026) sore. Berlokasi di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, ratusan mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi unjuk rasa beruntun demi mengawal arah kebijakan nasional. Langkah mereka menuju pusat pemerintahan sempat diwarnai gesekan fisik dengan personel kepolisian sebelum akhirnya berhasil bertatap muka langsung dengan utusan Istana Negara.

Rintangan Long March dari Grogol dan Bentrokan dengan Aparat

Perjalanan massa aksi berawal dari titik kumpul di kawasan Grogol untuk melangsungkan long march menuju area target. Kendati menargetkan Istana Merdeka dan area kawasan Patung Kuda sebagai lokasi penyampaian pendapat, pergerakan peserta aksi diadang pengetatan penjagaan oleh aparat keamanan.

Menteri Luar Negeri Kepresidenan Mahasiswa Trisakti, Arief Rizquna, mengungkapkan bahwa rombongannya dihambat berulang kali selama bergerak menuju titik demonstrasi. "Kami tiga kali diadang selama perjalanan ke titik aksi oleh polisi. Terjadi bentrokan juga sampai ada beberapa rekan perempuan yang terkena saat dorong-dorongan," paparnya di lokasi kejadian.

Penahanan alur pergerakan tersebut membuat barisan massa tertahan cukup lama di jalanan. Ketua BEM Fakultas Hukum Trisakti, Zahra Nazira Firman, menyebut hambatan dari berbagai sisi membuat kedatangan mereka tertunda hampir satu jam. "Harusnya kami titik aksi itu di depan Istana, kami inginnya di Patung Kuda. Tapi tadi di perjalanan kita banyak banget dapat hambatan, banyak banget dihalangi dari kanan-kiri," ujar Zahra.

Membentang Simbol Kegelapan dan Mengumandangkan Tritura

Begitu berhasil menembus barikade dan memadati Jalan Medan Merdeka Selatan pada sore hari, massa langsung membentangkan lambang protes berupa bendera hitam-putih bermotif siluet. Bendera tersebut memuat tulisan "Dengan nama Tuhan, Ini Adalah Kegelapan".

Salah seorang peserta aksi bernama Rafi membeberkan makna filosofis di balik pemilihan warna panji tersebut. "Ini warnanya hitam putih karena menurut kami masa depan Indonesia akan benar-benar gelap kalau tidak ada perubahan yang lebih baik," ungkapnya.

Dalam aksi ini, mahasiswa membawa Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) yang mencakup tiga poin utama:

  1. Pulihkan Ekonomi, Ekologi, Pendidikan, Politik, Kesehatan Nasional.
  2. Berantas Inkompetensi dan Rangkap Jabatan Pejabat Publik.
  3. Tegakkan Supremasi Sipil.

Suara Kritis dari Atas Mobil Komando hingga Jeritan Alumni LPDP

Orasi bernada tegas terus digaungkan dari atas kendaraan komando. Para orator melayangkan kritik tajam terhadap penanganan isu ekonomi, terutama menyikapi respons pimpinan negara terkait indikator pasar finansial global. Seorang orator menyuarakan kekecewaannya, "Kemarin contohnya satu ketika MSCI mau menurunkan level saham Indonesia, Presiden malah bilang tidak takut. Padahal itu kan peringatan ada krisis, malah ditantang bukannya dibenahi," cetusnya.

Tak hanya sektor finansial, penanganan bencana lingkungan berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatra serta Kalimantan turut menjadi sorotan utama. Seorang mahasiswa perempuan dari atas mobil komando menegaskan, "Cukup dua tahun tak ada berita baik dari rezim ini. Bencana alam, sumatera kalimantan belum selesai (ditangani),". Orator lain juga mengingatkan peran krusial pemuda dalam menjaga arah bangsa: "Kita merupakan agent of change, kita masih memiliki jalan panjang. Jangan sampai boomer itu merusak jalan panjang kita,".

Aksi ini juga dihadiri oleh alumni Trisakti yang menyelesaikan studi magister di Eropa melalui program beasiswa pemerintah. Bersama rekannya, seorang lulusan bernama Jenny membentangkan poster bertuliskan "I Came Back For This? LPDP Awardee". Ia menumpahkan keprihatinannya atas sulitnya lapangan kerja serta kondisi lingkungan Jakarta yang memburuk.

"LPDP mewajibkan awardee-nya untuk pulang ke Indonesia. Tapi kami pulang dengan kondisi yang seperti ini, banyak sekali keresahan dan masalah di sini," keluh Jenny. Ia menambahkan bahwa kapasitas akademis lulusan luar negeri sulit terserap akibat kondisi ekonomi yang lesu. "Ketika kami kembali dengan membawa ilmu yang mungkin berguna, sangat disayangkan tidak ada peluang apa pun. Kita tidak difasilitasi, job market kini juga sangat sulit, investor banyak yang lari karena ketidakjelasan ekonomi," urainya.

Desakan Evaluasi Pejabat dan Respons Bergetar dari Perwakilan Istana

Ketegangan aksi mencapai puncaknya menjelang petang ketika Staf Khusus Wakil Menteri Sekretaris Negara, Bin Bin Firman Tresnadi, turun ke lapangan untuk menemui kerumunan massa. Para mahasiswa langsung mencecar utusan tersebut dengan tuntutan evaluasi menteri serta jaminan kesehatan bagi warga terdampak karhutla.

Seorang mahasiswa asal Kalimantan menyampaikan kesaksian emosional mengenai dampak penderitaan warga di daerahnya: "Di sana banyak sekali yang sudah sesak napas, hampir mati mereka menghirup asap, tapi enggak ada yang peduli. Saya minta ada perhatian pemerintah supaya mereka bisa berobat gratis," tegasnya di depan Bin Bin.

Kehadiran perwakilan Istana saat menaiki mobil komando langsung disambut riuh sorakan mahasiswa. Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Deni Wibowo, memperingatkan rekannya agar tidak mudah terbuai oleh komitmen lisan. "Teman-teman, jangan langsung percaya dengan janji bapak ini. Dua minggu lalu, beliau menemui mahasiswa lain dan berjanji akan mundur dari jabatannya jika masalah karhutla tidak selesai dalam waktu tiga hari," ujar Deni.

Di tengah tekanan dan teriakan massa, Bin Bin dengan jemari bergetar menyampaikan komitmen tertulisnya di hadapan peserta aksi sebelum akhirnya dikawal kembali ke dalam area Istana. "Saya janji akan menyampaikan untuk mengevaluasi kinerja Satgas PKH, kemudian menyampaikan rekomendasi untuk Menteri Kehutanan dan Wakil Menteri diganti," ucapnya penutup.

Artikel Terkait