Reaksi peradangan acap kali dipersepsikan secara negatif sebagai musuh utama kebugaran tubuh. Padahal, tanpa adanya mekanisme pertahanan alami ini, tubuh kita akan kesulitan menangkis gempuran infeksi kuman maupun memperbaiki berbagai jaringan yang cedera. Titik kritis baru muncul tatkala alarm peradangan tersebut menyala tanpa henti atau terpantik tanpa adanya ancaman fisik yang nyata. Fenomena yang lazim dikenal sebagai peradangan kronis ini perlahan-lahan dapat menjadi cikal bakal bermacam keluhan fatal, mulai dari serangan jantung hingga risiko diabetes.
Meluruskan pemahaman keliru masyarakat, ahli gastroenterologi Shilpa Ravella, MD, menekankan bahwa respons imun ini tak selamanya membawa dampak baik apabila justru merusak sel-sel tubuh yang sehat. Dikutip dari Women's Health pada Rabu (28/10/2026), Shilpa menegaskan, “Peradangan tidak selalu bermanfaat, bahkan tidak selalu tidak berbahaya. Peradangan dapat menyerang jaringan tubuh sendiri, mengganggu fungsi penting, dan menyebabkan kerusakan,”. Ulasan kesehatan ini dihimpun dan dipublikasikan oleh [suspicious link removed] pada Jumat, 30 Oktober 2026 pukul 08:41 WIB melalui tulisan Amanda Deah Maharani dengan penyuntingan oleh Gloria Setyvani Putri.
Cara Kerja Peradangan Akut dan Transisinya Menjadi Bahaya Kronis
Pada hakikatnya, peradangan merupakan sinyal protektif yang digerakkan oleh sistem kekebalan tubuh dalam merespons luka maupun invasi kuman. Gambaran sederhananya terlihat saat jemari kita tak sengaja tergores; area tersebut seketika memerah, membengkak, terasa hangat, dan menimbulkan nyeri. Seluruh gejala fisik itu menjadi tanda bahwa benteng imun sedang bekerja keras mensterilkan kuman sekaligus memicu proses pemulihan. Efek serupa juga terjadi usai kita berolahraga, di mana reaksi peradangan berskala kecil aktif menambal jaringan otot yang mengalami keretakan mikro. Peradangan akut seperti ini umumnya mereda dalam tempo singkat. Sebaliknya, peradangan kronis menetap dalam durasi panjang dan berisiko terus mengikis sel-sel yang sehat.
Mengenai pemicu utamanya, Shilpa Ravella, MD, menyoroti eratnya keterkaitan dengan kebiasaan sehari-hari. Ia menjelaskan, “Peradangan kronis sebagian besar dipicu oleh faktor pola makan, gaya hidup, dan lingkungan,”. Bilamana dibiarkan mengendap tanpa intervensi, proses ini lambat laun memicu komplikasi berat seperti gangguan jantung, kanker, obesitas, hingga diabetes. Tidak berhenti di situ, peradangan kronis juga berkorelasi erat dengan penyakit autoimun, contohnya rheumatoid arthritis—yaitu gangguan imun kronis yang secara keliru menyerang jaringan pelapis sendi—serta multiple sclerosis yang menggerogoti sistem saraf pusat pada area otak dan sumsum tulang belakang.
Menelusuri Sinyal Terselubung dan Saat yang Tepat Menemui Dokter
Satu tantangan terbesar dari peradangan kronis adalah karakternya yang tersembunyi karena tidak selalu memperlihatkan indikasi yang jelas. Sebagian orang mungkin kerap merasakan keletihan yang tak kunjung hilang, linu pada sendi, timbulnya masalah kulit, atau gangguan pada saluran pencernaan. Walau demikian, hadirnya keluhan-keluhan ini tak otomatis menandakan seseorang positif mengidap peradangan kronis, sebab deretan gejala serupa kerap dipicu oleh masalah kesehatan lainnya.
Guna mendapatkan kepastian, Shilpa Ravella, MD, mendorong masyarakat untuk tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga medis profesional. Ia menyarankan, “Saya selalu menyarankan orang untuk memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gejala yang mengkhawatirkan atau tidak biasa dan menetap,”. Langkah pemeriksaan klinis ini sangat krusial untuk melacak akar penyebab masalah sekaligus menentukan opsi terapi yang paling memadai.
Langkah Praktis Meredam Peradangan: Dari Manajemen Stres hingga Nutrisi Harian
Dari kacamata pencegahan, Esther Sternberg, MD, seorang dokter sekaligus peneliti dari Andrew Weil Center for Integrative Medicine, memaparkan bahaya tekanan mental yang berkepanjangan terhadap kesehatan sel kekebalan. Berbagai metode seperti meditasi, latihan kesadaran penuh (mindfulness), maupun terapi psikologis dapat dimanfaatkan untuk mengurai beban stres. Meski begitu, kita tidak perlu bertekad menghapus stres secara total, karena dalam porsi yang pas, stres justru berfungsi sebagai alarm pelindung diri.
Esther Sternberg, MD, menerangkan, “Stres dalam kadar tertentu membuat Anda tetap waspada saat harus melakukan suatu tugas dan membantu Anda menyadari keadaan sekitar ketika berjalan pulang larut malam,”. Di samping pengelolaan emosi, waktu tidur yang teratur dan mencukupi memegang peranan vital. Saat kita terlelap, tubuh memutar proses pemulihan alami sembari meregulasi pembentukan sel-sel pendukung respons peradangan.
Langkah protektif ini akan semakin efektif jika dipadukan dengan pembenahan pola makan. Esther Sternberg, MD, menganjurkan masyarakat untuk memperbanyak asupan makanan utuh serta sumber serat tinggi—seperti sayur-mayur, buah segar, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh—sambil menekan konsumsi olahan ultra-processed. Tak kalah penting, rutin berolahraga secara teratur terbukti efektif menurunkan derajat peradangan kronis tingkat rendah yang mengendap. Pada akhirnya, tujuan utama kita bukanlah mematikan seluruh mekanisme peradangan, melainkan menjaga agar sistem kekebalan tubuh tetap bekerja secara seimbang dan proporsional sesuai kebutuhan.