Jakarta - Kemajuan dalam teknologi medis telah memberikan dampak besar pada layanan urologi dan uronefrologi di Indonesia. Berbagai prosedur yang sebelumnya dilakukan melalui pembedahan terbuka kini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi robotik.
Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K), seorang dokter spesialis urologi, menyatakan bahwa kualitas layanan urologi di Indonesia saat ini telah setara dengan standar internasional. Teknologi robotik telah diterapkan dalam berbagai tindakan, seperti operasi tumor ginjal, kanker prostat, dan kelainan saluran kemih. "Kalau kita bicara penyakit di bidang urologi bisa tumor ginjal, bisa kanker prostat, bisa kelainan bawaan dari anak masih kecil, dan kalau di Indonesia sekarang pelayanannya sebenarnya kualitasnya sudah sama dengan internasional," ungkap Prof Nur dalam sebuah acara di Shangri-La, Jakarta Pusat.
Transformasi Melalui Teknologi Robotik
Kehadiran teknologi robotik memungkinkan dokter untuk melakukan berbagai operasi urologi dengan sayatan yang lebih kecil. Di Siloam Hospitals Asri, teknologi ini telah digunakan untuk prosedur seperti pengangkatan ginjal secara keseluruhan, pengangkatan sebagian tumor ginjal, hingga pengangkatan prostat. Teknologi ini juga efektif dalam menangani penyempitan saluran kemih, di mana bagian yang menyempit bisa diangkat dan disambungkan kembali dengan jaringan mukosa mulut.
Prof Nur menjelaskan bahwa penggunaan robot mengurangi kebutuhan untuk membuka perut secara lebar seperti pada pembedahan terbuka. Instrumen robot dimasukkan melalui beberapa lubang kecil, sementara dokter mengendalikan robot dari luar tubuh pasien. "Kalau kita pakai robot, dibuka lubang kecil 1 cm, 3 sampai 4 cm, tangan kita di luar. Luka yang kecil itulah yang menyebabkan penyembuhan lebih baik bagi pasien dan kualitas hidup setelah operasi lebih baik," jelasnya.
Keuntungan ini juga terlihat dalam transplantasi ginjal yang dilakukan dengan bantuan robot. Menurut Prof Nur, sayatan yang lebih kecil mengurangi risiko perdarahan dan komplikasi, memperpendek masa perawatan, serta memberikan hasil yang lebih baik dalam hal nyeri dan kosmetik. Kualitas fungsi ginjal setelah operasi tetap setara dengan pembedahan terbuka.
Indonesia sebagai Pelopor di ASEAN
Dalam konteks layanan uronefrologi, salah satu tantangan utama adalah gangguan fungsi ginjal. Pasien yang mengalami gagal ginjal dapat menjalani terapi pengganti seperti hemodialisis atau dialisis peritoneal, sementara transplantasi ginjal menjadi pilihan untuk menggantikan fungsi ginjal yang telah gagal. Di Rumah Sakit Siloam Hospitals Asri, telah dilakukan 543 kasus transplantasi ginjal, menjadikannya salah satu pusat transplantasi ginjal dengan volume tinggi di Indonesia. "Paling banyak tentu di RSCM. Tapi jumlah transplant di atas 50, di Asri itu antara 50-100 lebih setahun, itu angka yang dianggap high volume center of kidney transplant," kata Prof Nur.
Menurutnya, status sebagai pusat volume tinggi sangat penting karena transplantasi ginjal memerlukan tim yang terlatih, termasuk dokter anestesi, perawat, dan tim operasi yang berpengalaman. Setelah mencapai pengalaman dalam transplantasi ginjal dengan volume tinggi, layanan ini kini memasuki fase baru dengan penerapan teknologi robotik. Prof Nur menambahkan bahwa Indonesia menjadi yang pertama di ASEAN dalam menerapkan transplantasi ginjal dengan bantuan robot dibandingkan negara-negara seperti Singapura dan Malaysia.
Namun, Prof Nur menegaskan bahwa penerapan teknologi robotik dalam transplantasi ginjal harus dilakukan dengan hati-hati. Ada tahapan yang harus dilalui sebelum sebuah pusat layanan dapat melakukan tindakan ini, mengacu pada European Robotic Urology Section (ERUS) dan prinsip Enhanced Recovery After Surgery (ERAS). "Jadi jelas pathway-nya tadi berdasarkan European Robotic Urology Section, ERUS, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk sebuah center yang high volume," jelasnya.
Tantangan dalam Akses Layanan Robotik
Walaupun teknologi ini menjanjikan banyak manfaat, masih terdapat tantangan dalam pemerataan akses layanan. Saat ini, layanan robotik hanya tersedia di Jakarta, sehingga masyarakat di luar ibu kota harus datang ke Jakarta untuk mendapatkan layanan tersebut. "Di Indonesia sekarang baru hanya ada di Jakarta. Jadi kalau untuk masyarakat memang harus datang ke Jakarta kalau ingin mendapatkan layanan robot," kata Prof Nur.
Transformasi layanan uronefrologi tidak hanya melibatkan kecanggihan teknologi, tetapi juga kesiapan tenaga medis, pengalaman pusat layanan, kerja tim, serta ketersediaan fasilitas yang memadai. Perkembangan transplantasi ginjal dengan bantuan robot menjadi salah satu contoh bahwa layanan uronefrologi di Indonesia terus memasuki era baru. Menurut Prof Nur, teknologi ini dapat membantu dokter bekerja lebih efisien sekaligus memberikan pengalaman pemulihan yang lebih baik bagi pasien.