Pemerintah Indonesia mengumumkan insentif Bea Masuk 0% untuk impor suku cadang pesawat dan Liquified Petroleum Gas (LPG) yang digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia. Kebijakan ini merupakan bagian dari Paket Stimulus Ekonomi Semester II Tahun 2026.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyatakan bahwa dengan penurunan biaya ini, pelaku usaha diharapkan dapat mempertahankan kegiatan usahanya, meningkatkan efisiensi, dan tetap berdaya saing. "Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor riil," kata Haryo.
Untuk industri Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO), tarif Bea Masuk 0% berlaku untuk impor barang dan bahan yang digunakan dalam proses perawatan dan perbaikan pesawat. Dengan insentif ini, biaya operasional perusahaan dapat ditekan sehingga layanan perawatan pesawat di dalam negeri menjadi lebih kompetitif.
Selain itu, tarif Bea Masuk 0% untuk impor LPG diharapkan dapat membantu industri petrokimia dalam memproduksi bahan baku dengan biaya yang lebih efisien. Hal ini juga diharapkan memberikan manfaat bagi berbagai industri lain yang menggunakan produk petrokimia sebagai bahan baku.
Kebijakan ini diatur dalam PMK Nomor 50 Tahun 2026 tentang Perubahan Ketiga atas PMK Nomor 26/PMK.010/2022, yang ditetapkan pada 15 Juli 2026 dan mulai berlaku tujuh hari setelah diundangkan. Khusus untuk impor LPG, tarif Bea Masuk 0% berlaku selama enam bulan untuk pos tarif 9845.10.00 dan 9845.20.00.
Ketentuan pelaksanaan fasilitas Bea Masuk bagi industri MRO diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 16 Tahun 2026. Sementara itu, kriteria perusahaan industri petrokimia yang dapat memanfaatkan skema khusus atas impor LPG diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 1944 Tahun 2026. Impor LPG dengan kode HS 2711.12.00 dan 2711.13.00 oleh perusahaan yang memenuhi kriteria tersebut memperoleh fasilitas Bea Masuk 0%.
"Melalui efisiensi biaya produksi, pelaku industri diharapkan memiliki ruang yang lebih besar untuk berinvestasi, meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat daya saing," jelas Haryo.