Kesehatan

Kebiasaan Sehari-hari yang Memengaruhi Kesehatan Otak dan Memicu Lupa

Beberapa kebiasaan harian dapat berdampak negatif pada kesehatan otak, termasuk pola tidur yang buruk yang berpotensi menurunkan fungsi kognitif.

I
Indriani Atmaja
23 August 2026 15 pembaca
Foto: Shutterstock
Foto: Shutterstock

Jakarta - Kebiasaan sehari-hari yang tampaknya sepele dapat berpengaruh besar terhadap kesehatan otak. Salah satu faktor yang berkontribusi adalah kualitas tidur yang buruk. Tidur tidak hanya berfungsi sebagai waktu istirahat bagi tubuh, tetapi juga penting bagi otak untuk melakukan proses pembersihan limbah yang terakumulasi selama aktivitas sehari-hari.

Sebuah penelitian terbaru yang melibatkan analisis pemindaian MRI dari sekitar 40 ribu orang dewasa di UK Biobank menunjukkan adanya hubungan antara kualitas tidur dan efektivitas sistem pembersihan limbah di otak. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer's & Dementia: The Journal of the Alzheimer's Association.

Peran Tidur dalam Pembersihan Otak

Otak memiliki sistem yang dikenal sebagai sistem glymphatic, yang berfungsi dengan bantuan cairan serebrospinal untuk mengumpulkan dan mengeluarkan limbah serta racun dari jaringan otak. Proses ini berlangsung terutama saat seseorang tidur. Peneliti dari University of Cambridge menemukan bahwa kurangnya waktu tidur dapat mengganggu fungsi sistem glymphatic, sehingga kebiasaan tidur yang buruk dapat menghambat proses pembersihan limbah dari otak.

Gangguan pada sistem ini dihubungkan dengan peningkatan risiko gangguan fungsi otak dan demensia di masa depan. Salah satu peneliti, Hui Hong, menjelaskan bahwa temuan ini memberikan wawasan mengenai hubungan antara kerusakan pada pembuluh darah kecil di otak dan penyakit seperti Alzheimer. "Kami telah memiliki bukti bahwa penyakit pembuluh darah kecil di otak dapat mempercepat penyakit seperti Alzheimer, dan kini kami memiliki kemungkinan penjelasan mengapa hal itu terjadi," ungkapnya.

Hui Hong menambahkan bahwa gangguan sistem glymphatic dapat menghalangi kemampuan otak untuk membersihkan protein amyloid dan tau yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer. Selain itu, masalah pada sistem ini juga ditemukan berkaitan dengan tekanan darah tinggi.

Faktor Risiko dan Pencegahan Demensia

Profesor Hugh Markus dari University of Cambridge menyatakan bahwa faktor risiko demensia yang umum, seperti tekanan darah tinggi dan kebiasaan merokok, turut berkontribusi terhadap peningkatan risiko demensia. "Setidaknya seperempat dari seluruh risiko demensia disebabkan oleh faktor risiko umum seperti tekanan darah dan merokok," jelasnya.

Oleh karena itu, beberapa faktor tersebut dapat diatasi. Mengontrol tekanan darah dan berhenti merokok dianggap sebagai langkah yang dapat membantu menjaga fungsi sistem glymphatic. Demensia sendiri merupakan istilah umum yang merujuk pada gangguan kemampuan seseorang dalam mengingat, berpikir, atau mengambil keputusan, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Demensia bukanlah bagian normal dari proses penuaan, dengan penyakit Alzheimer sebagai bentuk demensia yang paling umum.

Temuan ini kembali menekankan pentingnya menjaga kebiasaan sehari-hari demi kesehatan otak. Tidur yang cukup dan berkualitas, menjaga tekanan darah, serta menghindari rokok adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan sejak dini. Meskipun penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara pola tidur, fungsi glymphatic, dan risiko gangguan otak, bukan berarti pola tidur yang buruk secara langsung menyebabkan demensia.

Artikel Terkait