Kesehatan

Kebijakan Skrining Hormon Testosteron untuk Tentara Berusia 30 Tahun ke Atas di AS

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan baru yang mewajibkan skrining hormon testosteron bagi tentara yang berusia 30 tahun ke atas. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan ke...

J
Jaya Abdi
03 September 2026 1 pembaca
Foto ilustrasi: thinkstock
Foto ilustrasi: thinkstock

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) telah mengumumkan panduan klinis terbaru mengenai prosedur skrining untuk mendeteksi defisiensi hormon testosteron di kalangan tentara. Kebijakan ini diwajibkan bagi semua prajurit aktif dan cadangan yang berusia 30 tahun ke atas, dan mulai berlaku segera.

Kebijakan ini mencakup prosedur pemeriksaan serta pengobatan standar yang berlaku untuk prajurit pria dan wanita. Pentagon menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk meningkatkan kesiapan tempur militer dengan menangani masalah hormonal dan memastikan ketersediaan energi pasukan.

Instruksi ini merupakan kelanjutan dari pengumuman yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada bulan Juli 2026. "Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan militer dengan mengidentifikasi serta mengelola masalah hormonal dan ketersediaan energi," demikian pernyataan resmi Pentagon dalam panduan tersebut.

Prosedur Skrining untuk Prajurit Pria dan Wanita

Dengan adanya kebijakan baru ini, prajurit pria yang berusia 30 tahun ke atas diwajibkan untuk menjalani tes darah testosteron secara berkala. Sementara itu, untuk prajurit pria yang berusia di bawah 30 tahun, pemeriksaan darah hanya akan dilakukan jika ada permintaan pribadi atau jika tim medis menemukan gejala klinis tertentu.

Berbeda dengan prajurit pria, skrining untuk prajurit wanita tidak diwajibkan secara rutin. Pentagon akan memfokuskan pemeriksaan pada keluhan seperti kelelahan kronis dan gangguan siklus menstruasi, yang sering kali berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon serta kondisi rendahnya ketersediaan energi.

Dokumen tersebut juga menetapkan batasan ketat terkait penggunaan terapi testosteron off-label bagi wanita. Pemeriksaan ini hanya diizinkan untuk wanita pascamenopause yang mengalami penurunan gairah seksual secara tidak normal.

Kontroversi di Kalangan Ahli Kesehatan

Kebijakan Pentagon mengenai skrining hormon ini mendapatkan perhatian dari berbagai pakar kesehatan dan praktisi medis. Banyak dokter mempertanyakan dasar ilmiah dari kebijakan tersebut, dengan kekhawatiran bahwa tes testosteron massal tanpa indikasi medis yang jelas dapat berisiko menyebabkan terapi berlebihan, yang dapat membahayakan kesehatan prajurit.

Saat ini, belum ada bukti ilmiah yang kuat yang menunjukkan bahwa skrining testosteron massal dapat secara langsung meningkatkan kesiapan tempur personel militer. Menanggapi kontroversi ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan khusus pada pertengahan September 2026, yang akan dihadiri oleh para ahli untuk membahas aspek keamanan dan indikasi medis penggunaan testosteron.

Artikel Terkait