Kesehatan

--- Kemarahan Publik Terhadap Oknum Tenaga Kesehatan, Psikiater Berikan Tips Empati di Media Sosial ---

--- Sebuah insiden di media sosial menghebohkan setelah seorang pasien BPJS Kesehatan mengeluhkan layanan yang diterimanya, yang berujung pada komentar negatif dari tenaga kesehatan. Psikiater memberi...

I
Indriani Atmaja
05 August 2026 28 pembaca
Foto: dok. BPJS Kesehatan
Foto: dok. BPJS Kesehatan
---TITLEEXCERPT--- Sebuah insiden di media sosial menghebohkan setelah seorang pasien BPJS Kesehatan mengeluhkan layanan yang diterimanya, yang berujung pada komentar negatif dari tenaga kesehatan. Psikiater memberikan saran untuk menjaga empati di dunia maya. ---CONTENT---

Jakarta - Media sosial menjadi sorotan setelah terjadi serangan terhadap sejumlah oknum dokter dan tenaga kesehatan (nakes). Kejadian ini bermula dari keluhan seorang pasien BPJS Kesehatan mengenai lamanya proses untuk mendapatkan ruang rawat inap. Alih-alih menerima dukungan emosional, unggahan pasien tersebut justru dibanjiri komentar negatif yang diduga berasal dari oknum dokter dan nakes. Belakangan, pasien tersebut dilaporkan meninggal dunia, yang memicu kemarahan publik.

Netizen langsung mencari identitas oknum nakes yang berkomentar tanpa empati dan menyerang akun tempat mereka bekerja. Spesialis kedokteran jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, mengungkapkan bahwa peristiwa ini menunjukkan betapa rentannya hubungan manusia ketika dihadapkan pada tekanan sistem dan dampak media sosial. Dia kemudian menjelaskan bagaimana seharusnya kita merespons situasi yang memanas ini dengan bijaksana.

Pentingnya Empati dengan Batasan

dr Lahargo menekankan betapa pentingnya memiliki rasa empati yang disertai dengan batasan etika dan profesionalisme yang sehat, yang ia sebut sebagai "compassion with boundaries". Baik tenaga kesehatan maupun masyarakat perlu menyadari bahwa empati tidak berarti membenarkan semua perilaku emosional, melainkan menghargai perasaan orang lain tanpa melanggar norma yang ada. "Di balik seragam tenaga kesehatan ada manusia yang lelah. Namun, di balik status pasien ada manusia yang sedang ketakutan dan berharap ditolong. Pada akhirnya, pelayanan kesehatan adalah perjumpaan antara manusia dengan manusia," ujarnya.

Hindari Tindakan Perundungan Digital

Meski kemarahan netizen berawal dari rasa solidaritas terhadap korban, dr Lahargo mengingatkan agar emosi tersebut tidak berubah menjadi aksi perundungan massal yang merendahkan martabat orang lain. "Seberat apa pun rasa kecewa atau tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang. Kata-kata dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan," tegasnya.

Prinsip THINK Sebelum Berkomentar

Untuk mencegah ruang digital semakin dipenuhi dengan amarah dan ujaran kebencian, dr Lahargo menyarankan publik untuk menerapkan lima pertanyaan reflektif sebelum menulis atau mengunggah komentar: Apakah yang ditulis ini benar dan sesuai fakta? Apakah tulisan ini membantu perbaikan keadaan? Apakah kalimat ini memberikan harapan? Apakah komentar ini memang perlu disampaikan? Apakah pesan disampaikan dengan keadaban dan rasa kasih?

Melatih Empati Setiap Hari

dr Lahargo juga mengingatkan bahwa empati bukanlah bakat yang dimiliki sejak lahir, melainkan sebuah kebiasaan yang dapat dipelajari dan dilatih secara terus-menerus. "Semakin sering kita mendengarkan tanpa menghakimi dan memilih kata-kata yang membangun, semakin kuat pula kemampuan empati kita, baik di rumah sakit maupun di dunia digital," tutupnya.

Artikel Terkait