Kesehatan

Menganalisis Peluang BGS dalam Pencalonan Dirjen WHO dan Pesaingnya yang Kuat

Pencalonan Direktur Jenderal WHO untuk periode 2027-2032 mulai menjadi perbincangan hangat, dengan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin bersaing melawan kandidat-kandidat berpengalaman dari dunia...

A
Agus Wigati
29 August 2026 12 pembaca
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto

Jakarta - Proses pencalonan untuk posisi Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) periode 2027-2032 kini mulai ramai diperbincangkan. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin (BGS), dipastikan akan menghadapi sejumlah nama besar yang memiliki latar belakang mentereng di kancah kesehatan internasional.

Mantan anggota panel ahli WHO, Dicky Budiman, telah menganalisis kekuatan para kandidat yang telah resmi mendaftar. Ia menyatakan bahwa BGS akan menghadapi tantangan struktural yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan tiga pesaingnya.

Pesaing Utama BGS

Dicky menilai bahwa pesaing terkuat BGS saat ini adalah Dr. Hanan Balkhy dari Arab Saudi. Dr. Balkhy, yang merupakan lulusan Universitas King Abdulaziz dan menyelesaikan residensi di Massachusetts General Hospital, serta fellowship penyakit infeksi di Cleveland Clinic di Amerika Serikat, dianggap memiliki profil yang sangat ideal sebagai insider di WHO. Saat ini, Hanan Balkhy menjabat sebagai Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, setelah sebelumnya berperan sebagai Asisten Direktur Jenderal untuk isu resistensi antimikroba di Markas Besar WHO, Jenewa.

"Kalau di-ranking Hanan Balkhy nomor satu. Dia punya kredibilitas teknis penuh sebagai dokter, karier panjang di birokrasi WHO, dan jaringan internal yang sangat kuat," ungkap Dicky.

Analisis dari Health Policy Watch juga menilai Hanan sebagai langkah diplomasi yang cerdas karena latar belakangnya yang lahir di AS, yang bisa menjadi solusi strategis dalam hubungan dengan pemerintah Amerika Serikat.

Kandidat Lain yang Menonjol

Di posisi kedua, Dicky menempatkan Dr. Hans Henri P. Kluge dari Belgia. Kluge, yang menjabat sebagai Direktur Regional WHO Eropa sejak Februari 2020, telah terbukti mampu memimpin kawasan Eropa melalui berbagai krisis besar, termasuk pandemi COVID-19, wabah Mpox, dan dampak kesehatan dari konflik Rusia-Ukraina. Selain itu, Kluge didukung oleh blok Eropa yang secara historis memiliki suara yang kuat dalam World Health Assembly (WHA).

Selanjutnya, kandidat ketiga adalah mantan Menteri Kesehatan Qatar, Dr. Hanan Mohammed Al-Kuwari. Dicky menilai bahwa profil Al-Kuwari memiliki kesamaan dengan BGS, karena keduanya berasal dari latar belakang menteri kesehatan domestik, bukan karier birokrat di dalam WHO. "Kekuatan Al-Kuwari terletak pada dukungan finansial-diplomatik dari negara Teluk dan posisi Qatar sebagai penghubung antara Timur Tengah dan Barat," jelas Dicky.

Dicky menyimpulkan bahwa Hanan Balkhy dan Hans Kluge memiliki keunggulan struktural yang sangat sulit untuk ditandingi oleh BGS. Keduanya merupakan dokter yang telah lama menduduki posisi puncak sebagai Direktur Regional WHO, sehingga telah membangun jaringan pemilih yang kuat di antara 34 negara anggota Dewan Eksekutif.

Di sisi lain, BGS dan Al-Kuwari berada di posisi sebagai outsider yang mengandalkan legitimasi keberhasilan program domestik, yang bagi BGS sendiri dinilai belum sepenuhnya solid di dalam negeri. Tantangan ini semakin berat mengingat Indonesia tidak memiliki kursi di Dewan Eksekutif WHO pada sesi nominasi Januari 2027.

"Realistisnya, BGS menghadapi tantangan yang jauh lebih berat untuk membangun koalisi suara. Kekuatan utama BGS harus datang dari narasi Global South dan skala keberhasilan program domestik, bukan dari jaringan kelembagaan internal WHO," tegas Dicky.

Artikel Terkait