Jakarta - Banyak pengguna behel yang mengeluhkan fenomena 'iyup', di mana gerakan bibir saat menutup mulut menjadi tidak alami karena menghindari kawat yang terpasang. Memasang behel merupakan salah satu metode populer untuk merapikan susunan gigi, tetapi saat awal pemakaian, beberapa pengguna mengalami kondisi di mana bibir atas tampak tertarik atau terjepit pada bracket ketika tersenyum, berbicara, atau menutup mulut. Fenomena ini, yang kini dikenal sebagai "iyup moment" di media sosial, membuat sebagian orang khawatir bahwa kondisi ini akan berlangsung hingga perawatan selesai.
Kabar baiknya, fenomena 'iyup' biasanya tidak bersifat permanen. Menurut drg Rini Susanti, Sp.Ort, seorang ahli ortodontik, kondisi ini umumnya hanya bersifat sementara selama proses adaptasi. "Menurut pengalaman saya, ini (iyup) temporer. Lagi-lagi, ya, tergantung permasalahan giginya," ungkap drg Rini.
Penelitian Mendukung Fenomena "Iyup"
Sebuah studi yang dilakukan oleh Paley dan rekannya pada tahun 2016 dalam jurnal The Angle Orthodontist memperkuat pandangan ini. Penelitian tersebut melibatkan 23 pasien pengguna alat ortodonti cekat dan dilakukan pada empat waktu berbeda: sebelum pemasangan, segera setelah pemasangan, satu bulan, dan dua bulan setelahnya. Hasilnya menunjukkan variasi yang menarik: 44 persen subjek tidak mengalami gangguan bicara sama sekali, 39 persen sempat terganggu tetapi berhasil beradaptasi dalam waktu dua bulan, dan hanya 17 persen yang masih mengalami gangguan pada pemeriksaan bulan kedua.
Adaptasi Jaringan Lunak di Sekitar Mulut
Proses adaptasi juga berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada jaringan lunak di sekitar mulut setelah pemasangan alat ortodonti. Bracket dan kawat yang sebelumnya tidak ada kini menjadi benda baru yang bersentuhan dengan area di sekitar bibir, sehingga posisi dan gerakan bibir pada awal perawatan dapat terasa berbeda. Penelitian oleh Wang dan rekan-rekannya pada tahun 2023 dalam Orthodontics & Craniofacial Research menunjukkan bahwa pemasangan fixed orthodontic appliance dapat menyebabkan perubahan pada sejumlah titik jaringan lunak di sekitar mulut, termasuk area bibir. Temuan ini menegaskan bahwa keberadaan alat ortodonti memang dapat memengaruhi jaringan lunak di sekitar mulut pada fase awal pemasangan.
Dengan demikian, perubahan yang dirasakan pengguna pada bibir setelah memakai behel dapat dimaklumi sebagai respons tubuh terhadap keberadaan alat ortodonti.
Variasi Waktu Adaptasi
Walaupun demikian, waktu yang diperlukan untuk beradaptasi dengan behel dapat bervariasi di antara individu. Faktor-faktor seperti kondisi gigi, rahang, dan karakteristik bibir dapat memengaruhi bagaimana seseorang menyesuaikan posisi bibir saat berbicara, tersenyum, atau menutup mulut. drg Rini menjelaskan bahwa pengguna dengan kondisi gigi depan yang lebih maju mungkin menghadapi tantangan berbeda saat menutup mulut setelah menggunakan behel. Oleh karena itu, fase "iyup" mungkin berlangsung lebih lama bagi sebagian pengguna dibandingkan yang lainnya. "Yang penting adalah memang pasien itu beradaptasi. Antara lain itu pada saat menutup mulut, mengatupkan bibirnya, dia perlu beradaptasi," jelasnya.
Artinya, kemunculan "iyup" pada minggu-minggu awal pemakaian behel tidak serta-merta menunjukkan bahwa perubahan tersebut akan menetap. Pengguna perlu memberikan waktu bagi bibir dan mulut untuk menyesuaikan diri dengan keberadaan alat ortodonti.
Kewaspadaan Selama Masa Adaptasi
Meskipun umumnya bersifat sementara, pengguna tetap harus memperhatikan kondisi jaringan mulut selama masa adaptasi. Jika bracket atau kawat menyebabkan luka, nyeri, atau iritasi yang berulang, sebaiknya keluhan tersebut disampaikan kepada dokter gigi atau spesialis ortodonti yang menangani perawatan. Dengan memahami bahwa fase adaptasi adalah hal yang wajar, pengguna tidak perlu langsung khawatir ketika melihat perubahan pada posisi bibir di awal perawatan.