Kesehatan

--- Olahraga Teratur: Mitos atau Fakta dalam Mencegah Aritmia? ---

--- Rajin berolahraga dikenal sebagai cara yang baik untuk menjaga kesehatan jantung, namun apakah hal ini benar-benar dapat menghilangkan risiko aritmia? ---

A
Adhe Dharma
18 August 2026 22 pembaca
Foto: Ilustrasi olahraga (Getty Images/AsiaVision)
Foto: Ilustrasi olahraga (Getty Images/AsiaVision)
---TITLEEXCERPT--- Rajin berolahraga dikenal sebagai cara yang baik untuk menjaga kesehatan jantung, namun apakah hal ini benar-benar dapat menghilangkan risiko aritmia? ---CONTENT---

Jakarta - Melakukan olahraga secara rutin merupakan kebiasaan yang sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan jantung. Namun, muncul pertanyaan apakah dengan berolahraga secara teratur seseorang dapat sepenuhnya terhindar dari risiko aritmia atau gangguan irama jantung. Spesialis penyakit dalam dengan fokus pada kardiovaskular dari Brawijaya Hospital, dr Simon Salim, SpPD-KKV, menyatakan bahwa pandangan bahwa olahraga dapat menghilangkan risiko aritmia adalah sebuah mitos.

Menurut dr Simon, meskipun olahraga dapat menurunkan risiko berbagai penyakit, termasuk aritmia, hal itu tidak berarti bahwa risiko tersebut menjadi nol, terutama bagi individu yang memiliki faktor genetik atau bawaan yang dapat menyebabkan aritmia. "Olahraga memang dianjurkan, tapi olahraga tidak menghilangkan semua risiko," ujarnya pada Jumat (14/8/2026) dalam program detikSore.

Pentingnya Aktivitas Fisik untuk Kesehatan Jantung

Walaupun olahraga tidak dapat sepenuhnya menghilangkan risiko aritmia, aktivitas fisik tetap sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan. "Jadi aktivitas justru kita minta, justru harus olahraga teratur supaya menjaga secara keseluruhan," jelas dr Simon.

Untuk menjaga kesehatan jantung, olahraga dengan intensitas rendah hingga sedang disarankan sebagai pilihan yang baik. "Untuk kesehatan jantung pada umumnya memang kita menyarankan untuk low to moderate impact, low to moderate intensity," tambahnya.

Intensitas Olahraga yang Tepat

Dr Simon menjelaskan bahwa olahraga dengan intensitas rendah hingga sedang adalah saat di mana seseorang masih dapat berbicara dengan nyaman. Jika seseorang sudah mengalami kesulitan dalam berbicara saat berolahraga, itu menandakan bahwa intensitasnya sudah tinggi. "Pada mereka yang terlatih, yang sudah terbiasa, high intensity ini boleh. Ini juga bermanfaat untuk kesehatan," katanya.

Bagi individu yang telah memiliki masalah jantung, disarankan untuk melakukan olahraga dengan intensitas sedang, yaitu saat mereka sudah tidak bisa bernyanyi. Jika tidak mampu melakukan itu, maka cukup berolahraga dengan intensitas rendah. "Kalau misalnya memang moderate intensity pun nggak bisa, ya terpaksa dia hanya low intensity," ungkap dr Simon.

Dia menekankan pentingnya tetap berolahraga, dengan memilih aktivitas yang masih bisa dilakukan tanpa mengalami sesak atau ketidaknyamanan. "Jadi lakukanlah olahraga yang masih bisa dikerjakan tanpa ada sampai sesek, sampai ngerasanya di dada atau apa segala macam, apa yang bisa diolahragakan tentu lebih baik," tutupnya.

Artikel Terkait