Kesehatan

Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin untuk Deteksi Dini Diabetes dan Hipertensi

Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat untuk rutin mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis setiap tahun, mengingat banyak warga yang sebelumnya sehat kini terdiagnosis penyakit serius seperti diabet...

A
Agus Wigati
05 August 2026 25 pembaca
Foto: Getty Images/iStockphoto/bymuratdeniz
Foto: Getty Images/iStockphoto/bymuratdeniz

Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh temuan yang menunjukkan bahwa jutaan orang yang dinyatakan sehat pada pemeriksaan sebelumnya, setahun kemudian justru terdeteksi mengalami hipertensi dan diabetes. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr Maria Endang Sumiwi, MPH, menjelaskan bahwa perubahan dalam kondisi kesehatan dapat terjadi dengan cepat. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala dianggap sangat penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini.

"Pesannya adalah selalu cek kesehatan gratis setiap tahun. Karena bisa jadi tahun lalu kita tidak bermasalah, tahun ini kita bermasalah," ungkap Endang saat memaparkan hasil capaian CKG pada Selasa (4/8/2026).

Temuan Perubahan Kesehatan yang Signifikan

Berdasarkan analisis data dari peserta yang mengikuti CKG selama dua tahun berturut-turut, Kemenkes menemukan adanya perubahan kesehatan yang cukup mencolok. Dari sekitar 30 juta orang yang tidak mengalami hipertensi pada CKG 2025, sebanyak 9,2 juta orang kembali menjalani pemeriksaan pada 2026. Hasilnya, 1 juta orang di antaranya kini terdiagnosis hipertensi.

"Jadi tahun lalu 30 juta diperiksa tidak bermasalah. Dari yang sudah kembali diperiksa tahun ini, ternyata satu juta menjadi hipertensi. Ini menunjukkan kenapa cek kesehatan harus dilakukan setiap tahun," jelas Endang.

Temuan serupa juga terlihat pada peserta yang sebelumnya berada dalam kondisi prehipertensi. Dari 3,9 juta orang yang berada di ambang hipertensi, sebanyak 1,3 juta orang kembali mengikuti CKG, dan hasilnya menunjukkan bahwa 297 ribu orang di antaranya telah berkembang menjadi hipertensi.

Deteksi Dini Diabetes dan Pengendalian Kesehatan

Perubahan status kesehatan juga teridentifikasi melalui pemeriksaan gula darah. Kemenkes mencatat bahwa dari 8,3 juta peserta yang tidak mengidap diabetes sebelumnya dan kembali mengikuti CKG tahun ini, sebanyak 188 ribu orang kini terdiagnosis diabetes. Selain itu, dari kelompok prediabetes, terdapat 16 ribu orang yang berkembang menjadi diabetes setelah pemeriksaan ulang.

"Karena itu masyarakat yang sudah diperiksa tahun lalu diharapkan segera kembali lagi mengikuti CKG tahun ini," kata Endang.

Di sisi lain, evaluasi menunjukkan hasil yang positif. Dari 340 ribu penyandang diabetes yang kembali mengikuti CKG, sebanyak 235 ribu orang berhasil mengendalikan kadar gula darah mereka hingga kembali normal. Hal serupa juga terlihat pada pengidap hipertensi. Dari 6,8 juta peserta dengan hipertensi yang tercatat pada pemeriksaan sebelumnya, sebanyak 2,4 juta orang kembali menjalani CKG, dan sekitar 1,1 juta orang berhasil mengendalikan tekanan darah mereka hingga kembali normal.

"Itu tujuan kita. Yang tahun lalu hipertensi, tahun ini jangan masih hipertensi. Kita ingin semakin banyak masyarakat yang tekanan darahnya kembali normal," tambah Endang.

Kemenkes juga melakukan evaluasi terhadap tindak lanjut pengobatan bagi peserta CKG yang terdiagnosis penyakit. Endang menjelaskan bahwa pemerintah telah menyediakan obat gratis selama 15 hari pertama bagi peserta yang ditemukan mengalami hipertensi, diabetes, atau gangguan lemak darah. Setelah itu, pengobatan dilanjutkan melalui layanan BPJS Kesehatan.

Namun, uji coba di tiga puskesmas menunjukkan bahwa hanya 43-62 persen pasien yang langsung mendapatkan pengobatan. "Hasil evaluasi kami masih bervariasi. Ada yang diperiksa saat kegiatan di komunitas, tetapi ketika diminta datang ke puskesmas untuk mengambil obat ternyata tidak datang," jelasnya.

Oleh karena itu, Kemenkes sedang mengevaluasi mekanisme pelayanan, termasuk kemungkinan membawa obat langsung saat kegiatan pemeriksaan di masyarakat agar peserta bisa segera memulai pengobatan tanpa harus datang kembali ke puskesmas. Endang menegaskan bahwa tujuan utama dari CKG bukan hanya untuk menemukan penyakit, tetapi juga untuk memastikan masyarakat mendapatkan pengobatan lebih cepat agar risiko komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, dan kematian dini dapat dicegah.

Artikel Terkait