Kesehatan

Penyebab Keracunan Massal Siswa di Papua Terungkap

Kepala Badan Gizi Nasional mengungkapkan dugaan penyebab keracunan ratusan siswa di Papua setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis. Temuan awal menunjukkan pelanggaran dalam proses memasak makanan.

J
Jarot Kusna
07 August 2026 29 pembaca
Foto: Devandra Abi Prasetyo/detikHealth
Foto: Devandra Abi Prasetyo/detikHealth

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjelaskan kemungkinan penyebab insiden keracunan yang menimpa ratusan siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua. Insiden ini terjadi setelah mereka mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Sudaryono, hasil penyelidikan awal menunjukkan bahwa satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) memasak makanan terlalu awal, yang melanggar standar keamanan pangan.

“Jadi memang memulai masaknya terlalu cepat, kalau nggak salah pukul 19.00 atau 19.30 di hari sebelumnya untuk diberi makan pada hari berikutnya di pukul 11.00, jadi itu sudah melanggar, termasuk yang di Semarang, Jawa Tengah, juga sama, dia mulai masak jam 21.00. Ini kan masalah kedisiplinan. Nah, ini kita lagi cari formula (untuk mengawasi SPPG yang melanggar),” ungkap Sudaryono pada Kamis (6/8/2026).

Langkah Pengawasan yang Diperketat

Sudaryono menambahkan bahwa BGN sedang mencari cara untuk memperketat pengawasan agar pelanggaran serupa tidak terulang di dapur penyedia MBG. Ia juga menegaskan bahwa BGN tidak akan ragu untuk membawa kasus ini ke ranah hukum jika ditemukan unsur kesengajaan, sabotase, atau pelanggaran lain dalam pelaksanaan program MBG.

“Memang kalau ada ya kita serahkan semua, bukan kemudian kita tutup-tutupi atau kemudian kita bela, karena kalau salah, ngapain dibela. Jadi, cuma kan kita mesti juga ada asas praduga tak bersalah,” jelasnya.

Faktor Lain Penyebab Keracunan

Di sisi lain, Sudaryono menjelaskan bahwa tidak semua kasus keracunan disebabkan oleh kesalahan dalam proses memasak di dapur MBG. Terdapat juga insiden yang terjadi karena makanan yang dibawa pulang oleh penerima manfaat dan dikonsumsi bersama anggota keluarga setelah beberapa waktu.

“Misalnya dia sudah benar semua dapurnya, kemudian sudah diberikan ke siswanya di waktu yang juga masih sesuai, jam 9 atau 10 pagi, tetapi kemudian dia bungkus, dibawa pulang, dan dikonsumsi bersama keluarga yang lain, sehingga yang keracunan bukan hanya siswanya, melainkan termasuk anggota keluarga yang mengonsumsi makanan itu. Ini bagian dari PR kami, bagaimana mengedukasi,” tuturnya.

Oleh karena itu, BGN berencana untuk meningkatkan edukasi kepada para penerima manfaat mengenai keamanan pangan, termasuk pentingnya mengonsumsi makanan MBG sesuai waktu yang dianjurkan dan tidak menyimpannya terlalu lama.

Sebelumnya, lebih dari 200 siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG pada Rabu (5/8). Beberapa siswa sempat dirawat di RSUP Jayapura, dan kondisi mereka dilaporkan semakin membaik. Delapan pasien yang masih dirawat menunjukkan perkembangan positif, bahkan satu di antaranya telah diizinkan pulang dari rumah sakit.

Artikel Terkait