Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), Prof Taruna Ikrar, telah meresmikan Pusat Tanaman Obat Bahan Alam yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Ittifaqiah, Sumatera Selatan. Peresmian ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat hilirisasi komoditas herbal di Indonesia melalui kerja sama antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.
Acara peresmian ditandai dengan penanaman berbagai jenis tanaman obat yang memiliki khasiat, seperti kumis kucing, kelor, jeruk, dan cengkeh. Tanaman-tanaman ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan dan kosmetik berbasis bahan alami. Program ini memanfaatkan lahan seluas 21 hektare yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Al Ittifaqiah dan akan dikembangkan melalui konsep kolaborasi antara akademisi, bisnis, dan pemerintah.
Pengembangan Produk Herbal Berbasis Alam
Dengan pendekatan kolaboratif ini, hasil dari budidaya tanaman obat tidak hanya akan terfokus pada sektor pertanian, tetapi juga akan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti skincare, sabun, sampo, minuman kesehatan, dan produk herbal lainnya. Diharapkan, hal ini dapat memberikan sumber pendapatan baru bagi pesantren dan masyarakat di sekitarnya, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis bahan alam.
Menurut Taruna Ikrar, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat melimpah, namun sebagian besar masih dijual dalam bentuk bahan mentah. Oleh karena itu, hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai ekonomi, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. "Pesantren memiliki peran strategis sebagai pusat lahirnya ilmu pengetahuan, inovasi, dan gerakan sosial. Melalui pengembangan tanaman obat berbasis pesantren, kita tidak hanya menjaga kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Sinergi untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Taruna Ikrar juga menekankan pentingnya pengembangan bahan alam yang dilakukan secara ilmiah, memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat, sehingga dapat menghasilkan produk yang berdaya saing baik di tingkat nasional maupun global. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pesantren diharapkan menjadi fondasi penting dalam membangun industri bahan alam yang modern dan berkelanjutan di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak masyarakat untuk menjadikan gerakan menanam pohon sebagai bagian dari investasi untuk masa depan. "Menanam satu pohon berarti menanam kehidupan. Gerakan 1 Juta Pohon merupakan aksi nyata untuk menjaga keseimbangan ekosistem, memperbaiki kualitas udara, melestarikan sumber air, serta mewariskan bumi yang lebih baik bagi generasi mendatang," tegasnya.
Acara ini melibatkan masyarakat, santri, dan pengurus Pondok Pesantren Al Ittifaqiah sebagai simbol sinergi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat dalam membangun ekosistem yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan. Peresmian pusat tanaman obat ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat melalui inovasi dan hilirisasi sumber daya alam.
Taruna Ikrar hadir didampingi oleh sejumlah pejabat BPOM lainnya, menegaskan komitmen bersama dalam mendukung pelestarian lingkungan, pengembangan bahan alam, dan penguatan pembangunan kesehatan nasional melalui hilirisasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.