KABARBURSA.COM – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pemilik jaringan Alfamart, baru saja mengalami penurunan status dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Global Small Cap Index. Perubahan ini mulai efektif pada penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026. Dengan demikian, AMRT menjadi satu-satunya saham Indonesia yang mengalami penurunan kelas pada rebalancing indeks terbaru yang dilakukan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Perubahan status ini biasanya berdampak signifikan terhadap pasar, karena berhubungan langsung dengan aliran dana dari institusi global. Ketika sebuah saham dikeluarkan dari indeks utama, umumnya dana pasif akan melakukan penyesuaian portofolio. Dampak dari perubahan ini mulai terlihat pada pergerakan saham AMRT sepanjang bulan Mei.
Pergerakan Saham yang Volatil
Pada tanggal 12 Mei 2026, saham AMRT ditutup di level 1.415, mengalami penurunan sebesar 70 poin atau setara dengan 4,71 persen. Namun, pada perdagangan berikutnya, saham ini menunjukkan volatilitas yang tinggi. Meskipun ditutup stagnan di level yang sama pada 13 Mei 2026, nilai transaksi sahamnya mencapai Rp161,91 miliar dengan volume sekitar 1,18 juta lot dan frekuensi transaksi mencapai 16 ribu kali. Saham ini bahkan sempat jatuh ke level 1.305 sebelum akhirnya kembali ke area penutupan.
Orderbook menunjukkan adanya persaingan yang ketat, dengan antrean bid yang tebal di level 1.350 lebih dari 60 ribu lot, sementara sisi offer terlihat lebih tipis dibandingkan dengan tekanan beli di bawahnya. Sepanjang bulan ini, saham AMRT memang menunjukkan pergerakan yang sangat fluktuatif.
Pada tanggal 4 Mei 2026, saham ini sempat melonjak hingga 7,95 persen ke level 1.425, didukung oleh net foreign buy sebesar Rp28,29 miliar. Kenaikan berlanjut pada tanggal 6 Mei, ketika saham kembali naik 5,56 persen ke level 1.520 dengan arus masuk asing mencapai Rp31,11 miliar. Namun, setelah itu, saham ini mulai terkoreksi dari level 1.520 menuju 1.415 dalam beberapa sesi perdagangan. Pada tanggal 13 Mei 2026, investor asing mencatatkan net foreign sell sekitar Rp34 miliar setelah sebelumnya melakukan distribusi secara bertahap.
Arus Dana Asing dan Pandangan Analis
Meski demikian, arus dana asing sepanjang bulan Mei belum sepenuhnya negatif. Dalam beberapa sesi sebelumnya, investor asing masih aktif membeli saham ini, dengan net foreign buy mencapai Rp13,02 miliar pada tanggal 7 Mei, Rp12,12 miliar pada tanggal 8 Mei, dan Rp6,73 miliar pada tanggal 12 Mei. Hal ini menunjukkan bahwa AMRT berada dalam fase tarik-ulur yang signifikan setelah perubahan indeks MSCI, di mana ada tekanan distribusi dari sebagian investor institusi, tetapi di sisi lain masih ada akumulasi yang mencoba menahan saham di level bawah.
Menariknya, meskipun harga saham berfluktuasi dan status MSCI turun, sebagian besar analis tetap optimis terhadap prospek AMRT. Dari 30 analis yang memantau saham ini, 28 di antaranya memberikan rekomendasi untuk membeli, sementara hanya dua yang memilih untuk bertahan, dan tidak ada yang merekomendasikan untuk menjual. Konsensus target harga analis juga masih jauh di atas harga pasar saat ini, dengan rata-rata target harga AMRT di level Rp2.281 per saham, sekitar 61 persen di atas harga pasar saat ini yang berada di level 1.415. Target tertinggi analis mencapai Rp2.700, sedangkan target terendah berada di Rp1.510. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun AMRT mengalami penurunan status ke small cap, fundamental bisnis perusahaan masih dianggap solid oleh mayoritas analis baik di tingkat global maupun domestik.
(*) Disclaimer: Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.