Kesehatan

Suhu Dingin 'Bediding' di Pulau Jawa, Apa Penyebabnya dan Sampai Kapan Berlangsung?

Fenomena suhu dingin yang dikenal sebagai 'bediding' sedang dirasakan oleh banyak warga Pulau Jawa, terutama saat malam dan pagi hari. BMKG menjelaskan penyebab serta perkiraan durasi fenomena ini.

E
Eira Orelia
28 July 2026 21 pembaca
Foto: ANTARA FOTO /Irfan Sumanjaya
Foto: ANTARA FOTO /Irfan Sumanjaya

Belakangan ini, banyak pengguna media sosial yang mengeluhkan suhu udara yang terasa lebih dingin, terutama pada malam hari hingga pagi. Fenomena ini dikenal dengan istilah bediding, yang biasanya muncul saat musim kemarau. Salah satu netizen mengekspresikan keluhannya, "Cirebon daerah Sepantura ini kena angin dingin, dan suhu segini aja gue langsung pilek. Mana airnya dingin banget," tulis @Ich*******. Sementara itu, netizen lain dari Jatinangor juga merasakan hal serupa, "Gue bisa merasakan jari-jari kaku di Jatinangor dingin banget," ungkap @koi*******.

Penyebab Suhu Dingin

BMKG menyatakan bahwa fenomena bediding ini disebabkan oleh pengaruh Monsun Australia. Angin musiman yang kering ini membawa massa udara yang lebih dingin dan mengurangi pembentukan awan. Tanpa adanya tutupan awan, panas dari permukaan bumi lebih mudah hilang ke atmosfer pada malam hari, sehingga menyebabkan penurunan suhu yang signifikan, terutama menjelang pagi.

Durasi Fenomena Bediding

Menurut data BMKG selama sepuluh tahun terakhir, penurunan suhu mulai terasa pada bulan Juli dan mencapai puncaknya antara Juli hingga Agustus. "Sebagai contoh, Kabupaten Malang, suhunya bisa drop hingga di bawah 19,5 derajat Celcius, jauh lebih dingin dibandingkan Jakarta yang relatif stabil hangat," jelas BMKG. Mereka juga menambahkan bahwa topografi dan elevasi dataran tinggi berperan dalam mempertahankan hawa dingin tersebut.

Dr. Givo Alsepan, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi dari FMIPA IPB University, memperkirakan bahwa fenomena ini dapat berlangsung hingga puncak musim kemarau, yaitu sekitar akhir Juli hingga Agustus. Bahkan, di beberapa daerah, fenomena ini mungkin berlanjut hingga awal September, tergantung pada perkembangan kondisi atmosfer. "Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia, sedangkan Eropa, Amerika Utara, dan sebagian Asia Timur sedang memasuki musim panas," jelasnya.

Artikel Terkait