Kesehatan

Tantangan dalam Budidaya Ube Dibandingkan Ubi Unggu, Menurut Profesor Pertanian

Popularitas ube yang meningkat di industri kuliner modern ternyata membawa tantangan tersendiri dalam budidayanya dibandingkan dengan ubi ungu. Seorang ahli pertanian menjelaskan perbedaan signifikan...

I
Indriani Atmaja
22 August 2026 24 pembaca
Ube atau purple yam, nama lainnya adalah ubi kelapa. Foto: Getty Images/Luis Echeverri Urrea
Ube atau purple yam, nama lainnya adalah ubi kelapa. Foto: Getty Images/Luis Echeverri Urrea

Jakarta - Kenaikan minat terhadap olahan ube, seperti pastry, es krim, dan matcha latte, telah membuat umbi berwarna ungu pekat ini semakin dicari oleh pelaku industri kuliner. Dalam konteks ini, ube (Dioscorea alata) sering dibandingkan dengan ubi ungu (Ipomoea batatas), meskipun keduanya berasal dari keluarga yang berbeda. Di lapangan, proses penanaman ube membutuhkan teknik, waktu, dan investasi yang berbeda jauh dibandingkan dengan ubi ungu.

Perbedaan Teknik Budidaya

Pakar Plant Breeding dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Prof Agung Karuniawan, menjelaskan bahwa budidaya ube memiliki kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ubi jalar. "Kalau dibandingkan dari aspek teknis budidaya, ube relatif lebih kompleks karena merupakan tanaman merambat yang membutuhkan pengaturan pertumbuhan tajuk dan biasanya memerlukan lanjaran atau sistem penyangga agar pertumbuhan tanaman lebih terarah," ungkapnya.

Prof Agung menambahkan bahwa budidaya ubi jalar lebih sederhana karena pertumbuhannya menjalar di permukaan tanah tanpa memerlukan konstruksi penyangga. Selain itu, pengelolaan ruang vertikal juga menjadi hal penting dalam budidaya ube. Meskipun ube adalah tanaman merambat yang umumnya memerlukan penyangga, penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa hal ini tidak selalu berdampak positif pada pertumbuhan vegetatif tanaman.

Kebutuhan Khusus dalam Budidaya Ube

Menurut Prof Agung, kebutuhan akan lanjaran harus disesuaikan dengan varietas, sistem produksi, dan tujuan budidaya. Ia menjelaskan bahwa meskipun teknik budidaya untuk kedua jenis umbi ini memiliki kesamaan dalam hal bahan tanam, pengolahan tanah, pengaturan air, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu, dan panen, terdapat beberapa kekhususan yang perlu diperhatikan.

Salah satu perbedaan mencolok antara ube dan umbi lainnya adalah siklus produksi ube yang lebih panjang, berkisar antara 8 hingga 10 bulan. Oleh karena itu, manajemen pertanaman harus dirancang berbeda dibandingkan dengan tanaman yang memiliki umur lebih pendek. Penelitian terbaru di IPB juga menunjukkan bahwa ukuran potongan umbi berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit, sehingga teknologi perbanyakan menjadi aspek penting jika ingin mengembangkan tanaman ini secara massal.

Walaupun budidaya Dioscorea alata sudah dilakukan di Indonesia, komoditas ini belum berkembang sepesat umbi-umbi lain seperti singkong atau kentang. Prof Agung menyatakan bahwa budidaya ube masih dilakukan dalam skala terbatas di beberapa daerah, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.

Artikel Terkait