Kesehatan

Tiga Jenis Gangguan Katup Jantung dan Gejalanya yang Harus Diwaspadai

Gangguan pada katup jantung dapat menyebabkan berbagai gejala seperti sesak napas dan nyeri dada. Penting untuk mengenali jenis-jenis penyakit katup jantung agar penanganan dapat dilakukan dengan tepa...

D
Dinda Mughni
10 August 2026 24 pembaca
Foto: Magnific
Foto: Magnific

Jakarta - Ketika katup jantung tidak berfungsi dengan baik, gejala seperti sesak napas saat menaiki tangga, kelelahan yang berlebihan, jantung berdebar, nyeri di dada, atau pembengkakan pada kaki bisa muncul. Penyakit ini sering kali berkembang secara perlahan dan sering kali dianggap sebagai efek dari kelelahan atau penuaan, sehingga banyak penderita yang tidak menyadari bahwa kemampuan jantung mereka mulai menurun.

Jantung manusia memiliki empat katup, yaitu katup mitral, aortal, trikuspid, dan pulmonal. Fungsi katup-katup ini mirip dengan pintu satu arah yang memastikan darah mengalir ke arah yang benar. Namun, jika katup mengalami penyempitan atau tidak menutup dengan sempurna, aliran darah bisa terhambat atau kembali ke ruang jantung sebelumnya. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya.

Risiko Jangka Panjang Gangguan Katup Jantung

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular dari Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Vera Citra Setiawan Hoei, BMedSci., Sp.B.T.K.V., Subsp.JD(K), menjelaskan tentang risiko jangka panjang yang terkait dengan masalah ini. "Penyakit katup jantung terjadi ketika katup menyempit atau tidak menutup dengan sempurna, sehingga aliran darah terganggu dan jantung bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, bisa terjadi pembesaran jantung, gangguan irama, hingga penurunan fungsi pompa. Karena gejalanya muncul perlahan, pemeriksaan penting untuk menilai kerusakan dan menentukan penanganan yang tepat untuk pasien," ungkap dr. Vera.

Tiga Jenis Gangguan Katup Jantung

Penyakit katup jantung umumnya diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama:

  • Stenosis (Penyempitan): Kondisi di mana katup tidak dapat terbuka dengan baik.
  • Regurgitasi (Kebocoran): Keadaan ketika katup tidak dapat menutup dengan rapat.
  • Kelainan Bawaan: Bentuk katup yang tidak normal sejak lahir.

Gejala yang Harus Diwaspadai

Gangguan ini dapat menyebabkan pembesaran ruang jantung dan meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah. Penderita disarankan untuk mewaspadai beberapa gejala fisik berikut:

  • Sesak napas saat beraktivitas atau saat berbaring.
  • Mudah merasa lelah dan penurunan stamina yang signifikan.
  • Jantung berdebar atau berdetak tidak teratur.
  • Nyeri atau tekanan di area dada.
  • Sering merasa pusing, hampir pingsan, atau pingsan.
  • Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau perut.

Beberapa pasien dengan gangguan yang parah mungkin hanya merasakan keluhan ringan karena tubuh telah beradaptasi secara bertahap. Pemeriksaan yang disarankan untuk mendeteksi penyakit ini adalah ekokardiografi atau USG jantung. Tergantung pada kondisi pasien, tes ini dapat dilengkapi dengan EKG, rontgen dada, tes latih jantung, CT Scan, MRI jantung, atau kateterisasi.

Kabar baiknya, tidak semua pasien yang terdiagnosis harus menjalani operasi segera. Gangguan yang ringan biasanya hanya perlu dipantau melalui kontrol medis dan pemberian obat-obatan tertentu. "Penanganan ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan katup, gejala, fungsi pompa jantung, dan kondisi pasien. Pada kasus berat, tindakan dapat berupa pelebaran katup dengan balon, perbaikan atau penggantian katup, bedah minimal invasif, maupun TAVI untuk pasien tertentu," jelas dr. Vera.

Fasilitas Heart & Vascular Center di Bethsaida Hospital Gading Serpong menyediakan layanan terintegrasi untuk menangani masalah ini. Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menegaskan komitmen Bethsaida Healthcare dalam memberikan penanganan medis yang optimal bagi pasien. "Penanganan penyakit katup jantung membutuhkan ketepatan diagnosis, kolaborasi tim multidisiplin, serta kesiapan fasilitas pada setiap tahap perawatan. Melalui Heart & Vascular Center, kami berupaya menghadirkan layanan yang terintegrasi, mulai dari pemeriksaan, penentuan terapi, tindakan intervensi atau bedah, hingga rehabilitasi. Tujuannya bukan hanya menangani kelainan katup, tetapi juga membantu mempertahankan fungsi jantung dan meningkatkan kualitas hidup pasien," tutup dr. Margareth.

Artikel Terkait