Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan sebesar 51 poin dalam sepekan terakhir, ditutup pada angka 17.642 per dolar AS pada perdagangan yang berlangsung pada hari Jumat, 4 September. Penguatan ini terjadi meskipun ada kekhawatiran mengenai eskalasi konflik antara militer Amerika Serikat dan Iran.
Menurut data dari Bloomberg, pada perdagangan hari ini, kurs rupiah meningkat 37 poin atau setara dengan 0,21%. Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat di bidang ekonomi, mata uang, dan komoditas, menjelaskan bahwa situasi di Timur Tengah masih memberikan dampak signifikan terhadap nilai rupiah. Ketegangan kembali meningkat setelah AS melancarkan serangan terhadap beberapa target di Iran pada awal pekan, termasuk aset-aset militer yang berada di sekitar Selat Hormuz.
Respons Iran dan Dampaknya
Iran merespons serangan tersebut dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke posisi AS serta sekutunya di kawasan Teluk, termasuk di negara-negara seperti Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Selat Hormuz menjadi fokus perhatian para pelaku pasar karena Iran memperluas pembatasan terhadap pelayaran internasional di jalur tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa gangguan terhadap jalur perdagangan minyak global dapat berlangsung lebih lama, yang pada gilirannya dapat memperketat pasokan energi.
Peningkatan ketegangan ini juga memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya jumlah korban sipil. Ibrahim menyoroti adanya laporan mengenai serangan AS yang mengenai lokasi sebuah pesta pernikahan di bagian selatan Iran, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di kalangan warga sipil. Insiden ini kemudian memicu kecaman keras dari pihak Teheran.
Sentimen Positif dari The Fed
Di tengah situasi geopolitik yang menekan, rupiah memperoleh sentimen positif berkat pernyataan dovish dari Gubernur The Fed, Christopher Waller. Waller menyatakan bahwa ia mulai melihat tanda-tanda disinflasi dalam data terbaru yang ada. Ia juga menekankan bahwa keputusan mengenai suku bunga pada bulan September akan bergantung pada perkembangan inflasi di AS pada bulan Agustus. Ia bahkan menyatakan akan mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga jika data inflasi Agustus menunjukkan kemajuan yang terlihat dalam beberapa waktu terakhir.
Para pelaku pasar kini menunggu rilis data ketenagakerjaan AS, atau Nonfarm Payrolls (NFP), untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Diperkirakan, data NFP untuk bulan Agustus akan menunjukkan penambahan 56.000 pekerjaan, sementara tingkat pengangguran di AS diproyeksikan tetap di level 4,1%.
Dari sisi domestik, Ibrahim menekankan bahwa pemerintah perlu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi untuk memperkuat kembali kondisi kelas menengah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata masih berada di kisaran 5% dinilai belum cukup untuk mendorong industrialisasi dan menciptakan lapangan kerja formal dalam jumlah besar. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi perlu didorong hingga mencapai angka di atas 6%-6,5% agar penciptaan lapangan kerja formal semakin kuat. Pertumbuhan yang lebih tinggi diharapkan dapat menarik kembali investasi asing untuk membangun infrastruktur dan membuka lapangan kerja baru.
“Hasilnya akan tercipta masyarakat kelas menengah baru dengan pendapatan yang lebih baik,” ujar Ibrahim. Namun, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada tahun 2027 menghadapi sejumlah tantangan, termasuk tren suku bunga yang kembali meningkat yang dapat menekan investasi, serta ketegangan geopolitik global yang masih belum sepenuhnya mereda.